Pengertian Pidato Pidato adalah suatu ucapan dengan susunan yang baik untuk disampaikan kepada orang banyak. Contoh pidato yaitu seperti pidato kenegaraan, pidato menyambut hari besar, pidato pembangkit semangat, pidato sambutan acara atau event, dan lain sebagainya. Pidato yang baik dapat memberikan suatu kesan positif bagi orang-orang yang mendengar pidato tersebut. Kemampuan berpidato atau berbicara yang baik di depan publik / umum dapat membantu untuk mencapai jenjang karir yang baik. Jenis-Jenis / Macam-Macam / Sifat-Sifat Pidato Berdasarkan pada sifat dari isi pidato, pidato dapat dibedakan menjadi : 1. Pidato Pembukaan, adalah pidato singkat yang dibawakan oleh pembaca acara atau mc. 2. Pidato pengarahan adalah pdato untuk mengarahkan pada suatu pertemuan. 3. Pidato Sambutan, yaitu merupakan pidato yang disampaikan pada suatu acara kegiatan atau peristiwa tertentu yang dapat dilakukan oleh beberapa orang dengan waktu yang terbatas secara bergantian. 4. Pidato Peresmian, adalah pidato yang dilakukan oleh orang yang berpengaruh untuk meresmikan sesuatu. 5. Pidato Laporan, yakni pidato yang isinya adalah melaporkan suatu tugas atau kegiatan. 6. Pidato Pertanggungjawaban, adalah pidato yang berisi suatu laporan pertanggungjawaban. Metode Pidato Teknik atau metode dalam membawakan suatu pidatu di depan umum : 1. Metode menghapal, yaitu membuat suatu rencana pidato lalu menghapalkannya kata per kata. 2. Metode serta merta, yakni membawakan pidato tanpa persiapan dan hanya mengandalkan pengalaman dan wawasan. Biasanya dalam keadaan darurat tak terduga banyak menggunakan tehnik serta merta. 3. Metode naskah, yaitu berpidato dengan menggunakan naskah yang telah dibuat sebelumnya dan umumnya dipakai pada pidato-pidato resmi. Persiapan Pidato Sebelum memberikan pidato di depan umum, ada baiknya untuk melakukan persiapan berikut ini : 1. Wawasan pendengar pidato secara umum 2. Mengetahui lama waktu atau durasi pidato yang akan dibawakan 3. Menyusun kata-kata yang mudah dipahami dan dimengerti. 4. Mengetahui jenis pidato dan tema acara. 5. Menyiapkan bahan-bahan dan perlengkapan pidato, dsb. Teknik Penyajian Berpidato yang Baik Dalam menyampaikan materi pidato diperlukan strategi penyampaian yang baik, hal ini di maksud agar menarik simpati pendengar. OLeh karena itu, di bawah ini adalah beberapa Teknik penyampaian pidato yang baik . 1) Menggunakan bahasa yang mudah dipahami pendengar. 2) Menggunakan contoh dan ilustrasi yang mempermudah pendengar dalam memahami konsep yang abstrak apabila diperlukan. 3) Memberi penekanan dengan cara mengadakan variasi dalam gaya penyajian. 4) Mengorganisasikan materi sajian dengan urut dari hal mudah ke hal yang sulit dan lengkap. 5) Menghindari penggunaan kata-kata yang meragukan dan berlebih-lebihan. 6) Program atau materi disajikan dengan urutan yang jelas. 7) Berikan ikhtisar butir-butir yang penting, baik selama sajian maupun pada akhir sajian. Gunakan variasi suara dalam memberikan penekanan pada hal-hal yang penting. 9) Kejelasan lafal, intonasi, nada, dan sikap yang tepat agar pendengar tidak bosan atau terkesan monoton. 10) Membuat dan mengajukan pertanyaan untuk mengetahui pemahaman pendengar, minat pendengar, atau sikap pendengar, jika diperlukan. 11) Menggunakan nada suara, volume suara, kecepatan bicara secara bervariasi. 12) Menggunakan bahasa tubuh yang mendukung komunikasi Anda dengan pendengar. Selengkapnya...
Sabtu, 02 Februari 2013
GAYA BAHASA
1. Alegori Yaitu gaya bahasa yang memperlihatkan perbandingan yang utuh. Alegori merupakan metafora yng diperluas dan berkesinambungan, biasanya mengandung pendidikan dan ajaran moral. Contoh : Berhati-hatilah dalam mengemudikan bahtera kelangsungan kehidupan keluargamu, sebab lautan kehidupan ini penuh ranjau, topan yang ganas, batu karang, dan gelombang yang setiap saat dapat menghancurleburkan. Oleh karena itu, nakhoda harus selalu seia sekata dan satu tujuan agar dapat mencapai pantai bahagia dengan selamat. 2. Paradoks Yaitu gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta yang ada. Contoh : ▪ Mereka merasa tenang di tengah hiruk pikuknya Kota Surabaya. ▪ Musuh sering merupakan kawan yang akrab. 3. Klimaks Yaitu gaya bahasa yang berupa susunan ungkapan yang makin lama makin mengandung penekanan. Contoh : Dua hari yang lalu korban gempa bumi berjumlah lima belas orang, kemarin bertambah menjadi dua puluh orang, sekarang terhitung sejumlah tiga puluh orang. 4. Antiklimaks Merupakan gaya bahasa kebalikan dari klimaks. Dalam gaya bahasa antiklimaks, susunan ungkapannya disusun makin lama makin menurun. Contoh : Bantuan itu disampaikan lewat bupati, lalu diserahkan kepada camat yang segera menyerahkan bantuan itu ke desa-desa yang mengalami bencana. 5. Sinekdoke a. Pars pro toto, yaitu gaya bahasa yang menyebutkan sebagian, tetapi yang dimaksud keseluruhan ( meluas ). Contoh : ▪ Sudah lama Kak Rian tidak menampakkan batang hidungnya. ▪ Setiap kepala dikenakan sumbangan sebesar Rp 1.000,- b. Totem pro parte, yaitu gaya bahasa yang menyebutkan keseluruhan, tetapi yang dimaksudkan sebagian ( menyempit ). Contoh : ▪ Pertandingan itu berakhir dengan kemenangan Medan. ▪ Bangsa Indonesia bersorak gembira ketika Tim Piala Thomas berhasil merebut piala kebanggan itu. 6. Alusio Yaitu gaya bahasa yang menunjuk secara tidak langsung ke suatu peristiwa, tokoh, dan tempat yang sudah dikenal oleh banyak pembaca. Gaya bahasa ini juga menggunakan peribahasa, ungkapan, atau sampiran pantun yang isinya telah diketahui oleh umum. Contoh : ▪ Jangan seperti kura-kura dalam perahu. ▪ Sudah gaharu cendana pula. 7. Eufemisme Yaitu gaya bahasa yang berupa ungkapan-ungkapan halus untuk menggantikan ungkapan yang dirasa kasar, kurang sopan, atau kurang menyenangkan. Contoh : ▪ Sayang, anak setampan itu hilang akal. ▪ Ayahnya sudah tak ada di tengah-tengah mereka. 8. Perumpamaan Yaitu perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berlainan, tetapi sengaja dianggap sama. Perbandingan ini secara eksplisit diterangkan oleh pemakaian kata seperti, sebagai, ibarat, umpama, bak, dan laksana. Contoh : ▪ Dua bersaudara itu seperti minyak dengan air, tidak pernah rukun. ▪ Keluarga Hasmanan bagai mendapat durian runtuh, mendapat warisan yang tidak pernah diduga. 9. Metafora Yaitu perbandingan yang implisit, tanpa kata pembanding seperti atau sebagai di antara dua hal yang berbeda. Contoh : ▪ Para kuli tinta mendengarkan dengan tekun penjelasan tentang kenaikan harga BBM. ▪ Benarkah dewi malam lambang kecantikan seorang wanita ? ▪ Mereka telah menjadi sampah masyarakat. 10. Personifikasi atau Penginsanan Yaitu gaya bahasa yang menggunakan sifat-sifat insani untuk barang yang tidak bernyawa. Contoh : ▪ Api membara menjilat rumah-rumah di sekitarnya. ▪ Dengarlah nyanyian pucuk-pucuk cemara. ▪ Ombak bergulung-gulung, lautan mengamuk. ▪ Angin yang meraung di tengah malam yang gelap itu menambah lagi ketakutan kami. 11. Pleonasme Yaitu gaya bahasa yang menggunakan kata-kata mubazir. Contoh : ▪ Saya menyaksikan pembakaran rumah itu dengan mata kepala saya sendiri. ▪ Segala caci maki dan sumpah serapah itu didengar Kamil dengan telinganya sendiri. 12. Hiperbola Yaitu gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan, atau membesar-besarkan sesuatu yang dimaksud dengan tujuan memberi penekanan pada suatu pernyataan atau situasi, memperhebat, serta meningkatkan kesan dan pengaruhnya. Contoh : ▪ Teriakan para pengunjuk rasa itu membelah angkasa. ▪ Kenangan indah itu tak terlupakan selama hayat dikandung badan. ▪ Cita-citanya melangit, padahal tak terlihat ada usahanya. ▪ Ketegangan di negara itu telah memuncak. 13. Litotes Yaitu gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang dikecil-kecilkan, dikurangi dari kenyataan yang sebenarnya, tujuannya untuk merendahkan diri. Litotes merupakan lawan dari hiperbola. Contoh : ▪ Pooling pendapat itu tidak mengecewakan lembaga swadaya masyarakat, penyelenggaranya. ▪ Jakarta sebagai kota metropolitan bukanlah kota yang kecil dan sepi. ▪ Kalau ada waktu datanglah sekali-sekali ke gubuk kami. 14. Ironi Yaitu gaya bahasa yang berupa sindiran halus berupa pernyataan yang maknanya bertentangan dengan makna sebenarnya. Contoh : ▪ Pagi benar engkau datang, Hen! Sekarang, baru pukul 11.00. ▪ Sepeda motormu bagus benar, catnya sudah mengelupas, dan joknya sudah bertambal-tambal. ▪ Tidak diragukan lagi bahwa Andalah orangnya, sehingga semua kebijaksanaan akan lenyap bersamamu. 15. Metonimia Yaitu gaya bahasa yang menggunakan nama cirri atau nama hal yang ditautkan dengan segala sesuatu sebagai penggantinya. Contoh : ▪ Sang Merah Putih berkibar dengan gagahnya di angkasa. ▪ Ia membeli sebuah Chevrolet. ▪ Pelajarilah H.B. Jassin halaman 201. 16. Antitesis Yaitu sebuah gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan, dengan mempergunakan kata-kata atau kelompok kata yang berlawanan. Gaya ini timbul dari kalimat berimbang. Contoh : ▪ Mereka sudah kehilangan banyak dari harta bendanya, tetapi mereka juga telah banyak memperoleh keuntungan daripadanya. ▪ Kaya-miskin, tua-muda, besar-kecil, semuanya mempunyai kewajiban terhadap keamanan bangsa dan negara. ▪ Hingga kini kusimpan engkau mesra dalam lubuk hatiku, tetapi mulai kini engkau kuenyahkan jauh-jauh bagai musuh yang kejam. 17. Simile atau Persamaan Yaitu gaya bahasaa yang menyatakan perbandingan yang bersifat eksplisit, yaitu yang menggunakan semacam alat formal untuk menyatakan hubungan, seperti : seperti, misalnya, sama, bagai, laksana, bagaikan, dan sebagainya. Contoh : ▪ Kikirnya seperti kepiting batu. ▪ Matanya seperti bintang timur. ▪ Bibirnya seperti delima merekah. Simile atau persamaan masih dapat dibedakan lagi atas : a. Persamaan tertutup, yaitu persamaan yang mengandung perincian mengenai sifat persamaan itu. Pembaca atau pendengar diharapkan akan mengisi sendiri sifat persamaannya. Contoh : Saat menantikan pengumuman hasil ujian terasa tegang seperti mengikuti pertandingan bulu tangkis dalam set terakhir dengan kedudukan 14 – 14. b. Persamaan terbuka, yaitu persamaan yang tidak mengandung perincian mengenai sifat persamaan itu. Contoh : Saat menantikan pengumuman hasil ujian terasa seperti mengikuti pertandingan bulu tangkis dalam set terakhir dengan kedudukan 14 – 14. 18. Parabel ( Parabola ) Yaitu suatu istilah yang dipergunakan untuk menyebut cerita-cerita khayal dalam kitab suci yang bersifat alegoris untuk menyampaikan kebenaran moral atau spiritual. Gaya bahasa parabel terkandung dalam seluruh karangan. Dengan secara halus tersimpul dalam karangan itu pedoman hidup, falsafah hidup yang harus digali di dalamnya. Parable mempunyai nilai didaktis ( mendidik ). Contoh : Bhagawat Gita ( terjemahan Amir Hamzah ), Hikayat Kalilah dan Daminah ( Baidaba ), Hikayat Mahabharata, Aki ( Idrus ), Bayan Budiman. 19. Simbolik Yaitu gaya bahasa yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan benda-benda sebagai simbol atau perlambang. Contoh : ▪ Bunglon, lambang orang yang tak berpendirian tetap. ▪ Melati, lambang kesucian. ▪ Pahlawan, lambang keberanian. 20. Tropen Yaitu gaya bahasa kiasan yang mempergunakan kata-kata yang tepat dan sejajar maknanya dengan pengertian yang dimaksud. Contoh : ▪ Besok Bapak Presiden akan terbang ke Jepang. ▪ Sepanjang hari ia berkubur saja dalam kamarnya. ( tidak keluar-keluar ). ▪ Sudah berhari-hari ia mengukur jalan saja di kota itu. ( mondar-mandir tak jelas tujuannya ). 21. Asosiasi Yaitu semacam gaya bahasa yang memberikan perbandingan terhadap benda yang sudah disebutkan. Contoh : ▪ Mukanya pucat, bagai bulan kesiangan. ▪ Suaranya merdu, bak buluh perindu. ▪ Suaranya sember, seperti perian pecah. 22. Antonomasia Yaitu penggunaan kata sifat sebagai nama diri, atau nama diri sebagai nama jenis. Apabila seseorang kita panggil bukan dengan nama aslinya atau nama dirinya, melainkan dengan nama panggilan yang disebabkan oleh sifat yang dimilikinya atau ciri tubuhnya. Contoh : ▪ Orang yang tinggi atau jangkung dipanggil si Jangkung. ▪ Yang Mulia tak dapat menghadiri pertemuan ini. ▪ Pangeran yang meresmikan pembukaan seminar itu. 23. Perifrase atau Perifrasis Yaitu gaya bahasa penguraian. Atau pengungkapan yang panjang sebagai pengganti pengungkapan yang lebih pendek. Kata-kata yang berlebihan itu sebenarnya dapat diganti dengan satu kata saja. Contoh : ▪ Ia telah beristirahat dengan damai. ( = mati, meninggal ) ▪ Jawaban bagi permintaan Saudara adalah tidak. ( = ditolak ) ▪ Ketika Sang Surya keluar dari peraduannya, berangkatlah kami. ( = pagi-pagi ) 24. Repetisi Yaitu perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Contoh : ▪ Selama nafsuku masih mengalun, selama darahku masih mengalir di tubuhku, selama jantungku masih berdebur, aku belum akan menghentikan usahaku. ▪ Atau maukah kau pergi bersama serangga-serangga tanah, pergi bersama kecoak-kecoak, pergi bersama mereka yang menyusupi tanah, menyusupi alam ? Macam-macam repetisi yang pada prinsipnya didasarkan pada tempat kata yang diulang dalam baris, klausa, atau kalimat. Yang penting di antaranya : a. Epizeuksis, yaitu repetisi yang bersifat langsung, artinya kata yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut. Contoh : Kita harus bekerja, bekerja, sekali lagi bekerja untuk mengejar semua ketinggalan kita. b. Tautotes, yaitu repetisi atas sebuah kata berulang-ulang dalam sebuah konstruksi. Contoh : Kau menuding aku, aku menuding kau, kau dan aku menjadi seteru. c. Anafora, yaitu repetisi yang berwujud perulangan kata pertama pada tiap baris atau kalimat berikutnya. Contoh : Bahasa yang baku pertama-tama berperan sebagai pemersatu dalam pembentukan suatu masyarakat bahasa-bahasa yang bermacam-macam dialeknya. Bahasa yang baku akan mengurangi perbedaan variasi dialek Indonesia secara geografis, yang tumbuh karena kekuatan bawah-sadar pemakai bahasa Indoneisa, yang bahasa pertamanya suatu bahasa Nusantara. Bahasa yang baku itu akan mengakibatkan selingan bentuk yang sekecil-kecilnya. d. Epistrofa, yaitu repetisi yang berwujud perulangan kata atau frasa pada akhir baris atau kalimat berurutan. Contoh : Bumi yang kaudiami, laut yang kaulayari adalah puisi Udara yang kauhirupi, air yang kauteguki adalah puisi Kebun yang kautanami, bukit yang kaugunduli adalah puisi Gubuk yang kauratapi, gedung yang kautinggali adalah puisi e. Simploke ( symploche ), yaitu repetisi pada awal dan akhir beberapa baris atau kalimat berturut-turut. Contoh : kamu bilang hidup ini brengsek. Aku bilang biarin kamu bilang hidup ini nggak punya arti. Aku bilang biarin kamu bilang aku nggak punya kepribadian. Aku bilang biarin kamu bilang aku nggak punya pengertian. Aku bilang biarin f. Mesodiplosis, yaitu repetisi di tengah baris-baris atau beberapa kalimat berurutan. Contoh : Pegawai kecil jangan mencuri kertas karbon Babu-babu jangan mencuri tulang-tulang ayam goring Para pembesar jangan mencuri bensin Para gadis jangan mencuri perawannya sendiri g. Epanalepsis, yaitu pengulangan yang berwujud kata terakhir dari bari, klausa atau kalimat, mengulang kata pertama. Contoh : ▪ Kita gunakan pikiran dan perasaan kita. ▪ Kami cintai perdamaian karena Tuhan kami. ▪ Berceritalah padaku, ya malam, berceritalah. ▪ Kuberikan setulusnya, apa yang harus kuberikan. h. Anadiplosis, yaitu kata atau frasa terakhir dari suatu klausa atau kalimat menjadi kata atau frasa pertama dari klausa atau kalimat berikutnya. Contoh : dalam laut ada tiram, dalam tiram ada mutiara dalam mutiara : ah tak ada apa dalam baju ada aku, dalam aku ada hati dalam hati : ah tak apa jua yang ada dalam syair ada kata, dalam kata ada makna dalam makna : Mudah-mudahan ada Kau ! Istilah anadiplosis sering dipakai secara timbal balik dengan istilah epanadiplosis dan epanastrofa. 25. Anafora Yaitu repetisi yang berwujud perulangan kata pertama pada tiap baris atau kalimat berikutnya ( perulangan kata atau frase yang sama bukan dalam sebuah kalimat, melainkan dalam dua atau lebih kalimat berurutan. Pengulangan kata atau frase itu khususnya terdapat pada awal kalimat yang berurutan ). Contoh : Bahasa yang baku pertama-tama berperan sebagai pemersatu dalam pembentukan suatu masyarakat bahasa-bahasa yang bermacam-macam dialeknya. Bahasa yang baku akan mengurangi perbedaan variasi dialek Indonesia secara geografis, yang tumbuh karena kekuatan bawah-sadar pemakai bahasa Indoneisa, yang bahasa pertamanya suatu bahasa Nusantara. Bahasa yang baku itu akan mengakibatkan selingan bentuk yang sekecil-kecilnya. Junjunganku apatah kekal Apatah tetap Apatah tak bersalin rupa Apatah baqa sepanjang masa . . . . ( Dari Buah Rindu, Amir Hamzah ) 26. Epifora Yaitu gaya bahasa kebalikan anafora ( persajakan ). Epifora menggunakan perulangan kata atau bunyi pada akhir beberapa kalimat atau larik. Contoh : Kekasihku seperti nyawa pun adalah terkasih dan mulia juga, Dan nyawaku pun, mana daripada nyawa itu jauh ia juga; Jika seribu tahun lamanya pun hidup ada sia-sia juga. Hanya pada nyawa itu hampir dengan sedia suka juga, Nyawa itu yang menghidupkan senantiasa nyawa manusia juga, Dan menghilangkan cintanya pun itu kekasihku yang setia juga; Kekasihku itu yang mengenak hatiku dengan rahasia juga. Bukhari yang ada serta nyawa itu ialah berbahagia juga. ( Gazal dalam Puisi Lama, STA ) Kelapa jatuh, Mumbang jatuh. Yang tua mati, Yang muda mati. 27. Paralelisme Yaitu pemakaian yang berulang-ulang ujaran yang sama dalam bunyi, tata bahasa, atau makna, atau gabungan dari kesemuanya ; ciri khas dan bahasa puitis ( dalam puisi ). Dalam paralelisme yang diulang adalah kata, bagian kata, atau pengertiannya. Atau semacam gaya bahasa yang berusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian kata-kata atau frasa-frasa yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama. Kesejajaran tersebut dapat pula berbentuk anak kalimat yang bergantung pada sebuah induk kalimat yang sama. Contoh : ▪ Sangatlah ironis kedengaran bahwa ia menderita kelaparan dalam sebuah daerah yang subur dan kaya, serta mati terbunuh dalam sebuah negeri yang sudah ratusan tahun hidup dalam ketentraman dan kedamaian. ▪ Bukan saja perbuatan itu harus dikutuk, tetapi juga harus diberantas. ( Tidak baik : Bukan saja perbuatan itu harus dikutuk, tetapi kita juga harus memberantasnya. ) ▪ Baik golongan yang tinggi maupun golongan yang rendah, harus diadili kalau bersalah. ( Tidak baik : Baik golongan yang tinggi maupun mereka yang rendah kedudukannya, harus diadili kalau bersalah. ) Bentuk paralelisme merupakan sebuah bentuk yang baik untuk menonjolkan kata atau kelompok kata ( frase ) yang sama fungsinya. Namun bila terlalu banyak digunakan, maka kalimat-kalimat akan terasa kaku dan mati. 28. Tautologi Yaitu gaya bahasa penegasan dengan mengulang beberapa kali sepatah kata dalam sebuah kalimat. Dapat pula mempergunakan beberapa kata yang bersinonim berturut-turut dalam sebuah kalimat. Dapat pula disebut gaya bahasa sinonimi karena mempergunakan kata-kata yang bersinonim. Contoh : ▪ Sungai itu terlalu amat dalam sekali. ▪ Disuruhnya saya bersabar, bersabar, dan sekali lagi bersabar, tetapi aku tak tahan lagi. ▪ Siapa pun akan tertarik kepada orang yang ramah, baik hati serta berbudi seperti dia. ▪ Ia tiba jam 20.00 malam waktu setempat. ▪ Globe itu bundar bentuknya. 28. Inversi Yaitu gaya perubahan urutan bagian-bagian kalimat. Gaya bahasa inversi digunakan apabila predikat kalimat hendak lebih ditonjolkan atau dipentingkan daripada subyeknya. Sehingga predikat terletak di depan subyeknya. Contoh : ▪ Besar sekali gajinya. ▪ Padamlah lampu itu. ▪ Tak terhitung pengunjung itu. Inversi dapat dibedakan menjadi 3 macam : a. Releverade Inversi ( inversi tekanan ) Inversi jenis ini mementingkan tekanan untuk menegaskan maksud. Predikat kalimat ditaruh di depan agar memperoleh tekanan lebih dari subyeknya. Contoh : ▪ Anak itu nakal ( susunan biasa). ▪ Nakal anak itu ( inversi, susun balik, atau susunan khusus ). ▪ Lantai ini kotor ( susunan biasa ). ▪ Kotor lantai ini ( inversi ). b. Vertel Inversi ( inversi bercerita ) Inversi jenis ini dipakai untuk bercerita, untuk menegaskan peristiwa-peristiwa yang baru lagi penting. Inversi ini dipergunakan juga untuk dramatisasi, banyak ditemukan di dalam sastra lama. Contoh : ▪ Maka dipeliharakannyalah anaknya itu, maka terlalulah amat kasih sayangnya akan anak itu. ▪ Maka dilihatnya Hang Jebat mengusir orang di luar negeri itu. c. Functiloze Inversi ( inversi tak berfungsi ) Inversi jenis ini tidak mempunyai fungsi apa pun. Contoh : ▪ Di kota besar itu dia berusaha mencari pekerjaan. ▪ Di kota besar itu berusaha dia mencari pekerjaan. 29. Elipsis Yaitu sebuah gaya bahasa dengan menghilangkan satu kata atau lebih yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca atau pendengarnya, sehingga struktur gramatikalnya memenuhi pola yang berlaku. Contoh : ▪ Kalau masih belum jelas, akan saya terangkan sekali lagi ! ( yang akan diterangkan tidak disebutkan ). ▪ Pergilah ke rumah nenekmu sekarang juga ! ( yang disuruh pergi tidak disebutkan ). Bila bagian yang dihilangkan itu berada di tengah-tengah kalimat disebut anakoluton, misalnya : ▪ Jika anda gagal melaksanakan tugasmu … tetapi baiklah kita tidak membicarakan hal itu. Bila pemutusan di tengah-tengah kalimat itu dimaksudkan untuk menyatakan secara tak langsung suatu peringatan atau karena suatu emosi yang kuat, maka disebut aposiopesis. 30. Retoris ( Oratoris ) Yaitu semacam pertanyaan yang dipergunakan dalam pidato atau tulisan dengan tujuan untuk mencapai efek yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar, dan sama sekali tidak menghendaki adanya suatu jawaban ( gaya bahasa penegasan ). Gaya bahasa ini mempergunakan kalimat tanya tak bertanya, sering menyatakan kesangsian atau bersifat mengejek. Dalam bahasa pidato bukan dimaksudkan untuk bertanya, melainkan untuk menegaskan. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak perlu dijawab. Gaya ini biasanya dipergunakan sebagai salah satu alat yang efektif oleh para orator. Dalam pertanyaan retoris terdapat asumsi bahwa hanya ada satu jawaban yang mungkin. Contoh : ▪ Mana mungkin orang meninggal bisa hidup kembali ? (menegaskan) ▪ Inikah kerja namanya ? (maksudnya : hasil pekerjaanmu ini sangat tidak memuaskan ; untuk mengejek) ▪ Siapa pula yang mau ditindas terus-menerus ? 31. Koreksio ( correction ) Koreksio atau epanortosis adalah suatu gaya bahasa yang berwujud, mula-mula menegaskan sesuatu / mengemukakan hal yang salah atau kurang baik dengan sengaja atau tidak, tetapi kemudian memperbaikinya. Contoh : ▪ Sudah empat kali saya mengunjungi daerah itu, ah bukan, sudah lima kali. ▪ Gadis itu memakai baju hijau muda, bukan, hijau tua. ▪ Silakan pulang Saudara-saudara, eh maaf, silakan makan ! 32. Asindeton ( asyndeton ) Yaitu penghilangan konjungsi ( kata sambung ) dalam frase atau klausa atau kalimat. Suatu gaya yang berupa acuan, yang bersifat padat dan mampat di mana beberapa kata, frasa, atau klausa yang sederajat, tidak dihubungkan dengan kata sambung. Bentuk-bentuk itu biasanya dipisahkan saja dengan koma, seperti ucapan terkenal dari Julius Caesar : Veni, vidi, vici “ saya datang, saya lihat, saya menang “. Contoh : ▪ Materi pengalaman diaduk-aduk, modus eksistensi dari cogito ergo sum dicoba, medium bahasa dieksploitir, imaji-imaji, metode, prosedur dijungkir balik, masih itu-itu juga. ▪ Laki-laki perempuan, tua muda, besar kecil, pegawai, tukang becak, orang kampung, semuanya datang menyambut kedatangan regu Piala Thomas kita. ▪ Kita berjuang dengan hati panas, kepala dingin. 33. Polisindeton ( polysindeton, syndesis ) Yaitu suatu gaya yang merupakan kebalikan dari asindeton. Beberapa kata, frase, atau klausa yang berurutan dihubungkan satu sama lain dengan kata-kata sambung ( konjungsi ). Contoh : ▪ Setelah pelajaran usai, maka berkemas-kemaslah murid-murid hendak pulang, karena jam pelajaran terakhir telah habis, lalu mereka berdoa dipimpin oleh ketua kelas. 34. Kiasmus ( chiasmus ) Yaitu semacam acuan atau gaya bahasa yang terdiri dari dua bagian, baik frase atau klausa, yang sifatnya berimbang, dan dipertentangkan satu sama lain, tetapi susunan frase atau klausanya itu terbalik bila dibandingkan dengan frase atau klausa lainnya. Contoh : ▪ Semua kesabaran kami sudah hilang, lenyap sudah ketekunan kami untuk melanjutkan usaha itu. ▪ Uang itu sudah kutabung di bank, tak ada lagi uang di rumah. 35. Sinisme Yaitu gaya bahasa sindiran, tetapi lebih kasar dari ironi, berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati. Boleh mempergunakan kata yang mengandung makna sebaliknya seperti ironi, tetapi dalam nada suara orang berkata terdengar nada sindiran yang kasar. Contoh : ▪ Muak aku melihat perangaimu yang tak juga berubah ! ▪ Tidak diragukan lagi bahwa Andalah orangnya, sehingga semua kebijaksanaan akan lenyap bersamamu ! ▪ Memang Anda adalah seorang gadis yang tercantik di seantero jagad ini yang mampu menghancurkan seluruh isi jagad ini. 36. Sarkasme Yaitu gaya bahasa sindiran yang paling kasar ( perkataan yang menyakitkan / suatu acuan yang mengandung kepahitan dan celaan yang getir ). Kata sarkasme diturunkan dari kata Yunanai sarkasmos yang lebih jauh diturunkan dari kata kerja sakasein yang berarti “ merobek-robek daging seperti anjing “, “ menggigit bibir karena marah “, atau “ berbicara dengan kepahitan “. Contoh : ▪ Otakmu otaku dang rupanya ! ▪ Cih, mukamu yang seperti monyet itu, jijik aku melihatnya ! ▪ Lihat sang Raksasa itu ! (maksudnya si Cebol) 37. Oksimoron Oksimoron ( okys = tajam, moros = gila, tolol ) adalah suatu acuan yang berusaha untuk menggabungkan kata-kata untuk mencapai efek yang bertentangan. Atau dapat juga dikatakan, oksimoron adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan dengan mempergunakan kata-kata yang berlawanan dalam frase yang sama, dan sebab itu sifatnya lebih padat dan tajam dari paradoks. Contoh : ▪ Keramah-tamahan yang bengis. ▪ Untuk menjadi manis seseorang harus menjadi kasar. ▪ Itu sudah menjadi rahasia umum. ▪ Keindahan yang memuakkan. ▪ Dengan membisu seribu kata, mereka sebenarnya berteriak-teriak agar diperlakukan dengan adil. 38. Eponim Yaitu nama tempat atau pranata yang dibentuk menurut nama orang. Nama orang itu sering dihubungkan dengan sifat tertentu, sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu. Contoh : ▪ Orang kuat disebut dengan nama ‘Hercules‘. ▪ Helen dari Troya dipakai untuk menyatakan kecantikan. ▪ Simsom dipakai untuk menyatakan orang kuat. 39. Paranomasia ( pun ) Yaitu gaya bahasa yang mempergunakan permainan kata-kata dengan memanfaatkan polisemi atau homonimi. Jadi, gaya bahasa ini didasarkan kemiripan bunyi, tetapi terdapat perbedaan besar dalam maknanya. Contoh : ▪ Tanggal dua gigi saya tanggal dua. (tanggal : a. hari bulan ; b. terlepas) ▪ Anak kecil itu mengukur punggung ayahnya yang sedang mengukur panjang kain. (mengukur : a. menggaruk ; b. menghitung) ▪ Jangan meminta jangan kangkung saja ! (jangan : a. melarang ; b. sayur) ▪ Lirik matanya menyentuh perasaan para penonton. (lirik : a. kerling ; bukan semacam sajak curahan hati) 40. Silepsis Dalam gaya bahasa ini orang menggunakan sebuah kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi lebih dari satu konstruksi sintaksis. Jadi, kata yang dipakai itu secara gramatikal benar, tetapi kata itu diterapkan pada kata yang lain yang sebenarnya mempunyai makna lain. Contoh : ▪ Orang itu telah kehilangan topi dan semangatnya. ▪ Kami sedang mempelajari bagaimana fungsi dan sikap bahasa dalam pemakaiannya. 41. Zeugma Dalam gaya bahasa ini orang menggunakan sebuah kata untuk menerapkan atau menunjukkan dua kata lain sedemikian rupa sehingga memberikan makna yang berbeda kepada tiap-tiap kata itu. Jadi, dalam zeugma kata yang dipergunakan itu tidak cocok untuk kata yang kedua ( baik secara semantis, atau logis, maupun secara gramatikal ). Contoh : ▪ Dengan membelalakkan mata dan telinganya, ia mengusir orang itu. ▪ Ia menundukkan kepala dan badannya untuk memberi hormat kepada tamu yang baru saja datang. 42. Aliterasi Yaitu gaya bahasa yang mempergunakan kata-kata yang dimulai dengan konsonan yang sama. Biasanya terdapat dalam puisi. Contoh : ▪ Takut titik lalu tumpah. 43. Simetri Yaitu semacam gaya bahasa yang mempergunakan kalimat yang diikuti oleh bagian-bagian kalimat yang seimbang bentuk dan isinya. Contoh : ▪ Dilihatnya alamat pada amplop itu dengan saksama, diperhatikannya rumahku dengan senyumnya, dibukanya pintu masuk ke halaman rumahku perlahan-lahan, sebenarnya aku ingin segera menghambur ke luar, tetapi rasa malu menghalangi maksudku. ▪ Di dalam bilik yang sempit, tidak terpelihara itu, berdinding kotor berlantai kotor, dia belajar dengan tekun. Selengkapnya...
Senin, 09 Juli 2012
Khasiat Madu Untuk Pengobatan
1. Luka berat atau infeksi Madu yang dicampur dengan minyak ikan dioleskan pada luka berat atau infeksi. Menurut hasil penelitian, madu dapat meringankan luka dalam waktu 10 hari. Selain itu, diketahui pula bahwa madu dapat memperbesar keluarnya glutathione, sehingga mempercepat sembuhnya luka atau infeksi. 2. Penyakit asam lambung Minum madu secara teratur setelah makan dapat mengurangi kadar zat asam bagi penderita penyakit asam lambung. 3. Penyakit insomnia Madu yang dicampur dengan susu dapat menghilangkan penyakit insomnia atau penyakit sukar tidur. 4. Penyakit jantung Orang yang jantungnya sering berdebar, mudah kaget, merupakan gejala umum penderita penyakit jantung. Bagi penderita penyakit ini, dianjurkan untuk mengkonsumsi buah delima dan madu (takaran sesuai kebutuhan). 5. Penyakit rematik Madu dapat menyembuhkan penyakit rematik dengan cara diminum dan dicampur dengan telur ayam dan jahe. 6. Penyakit sesak nafas Madu dicampur dengan air temulawak, kunyit asam dan telur dapat menyembuhkan penyakit ini. 7. Penyakit campak Madu dicampur dengan telur ayam diminum dan sebagian dioleskan pada bagian yang terkena campak. 8. Panas badan Madu dicampur dengan kuning telur ayam dan jeruk nipis dapat menyembuhkan penyakit panas. 9. Jerawat pada wajah Oleskan madu pada bagian tubuh yang berjerawat. Selengkapnya...
Rabu, 11 Januari 2012
أصل العرب
كتب كثير من علماء الأنساب والتايخ في أصل العرب. وقد كثرت الأقوال وتضاربت الآراء خصوصا بين القديم والحديث. فالاعتماد عند المتقدمين على الكتب المدونة وعند بعض العصريين على الآثار القديمة التي نقب عنها في جوف الأرض وحيث أن أمر التنقيب عقيم في جزيرة العرب وبالأخص لم يجر حتى اليوم في الربع الخالي مع صحراء الأحقاف. فأصبح الاعتماد فيما يتعلق بشؤون العرب حتما على الكتب المدونة لأنه لم يكن أمامنا ما ينفي صحتها غيران كتب التاريخ والأنساب المتعلقة باصل العرب وتقسيمهم تحتوي على أقوال كثيرة.
يتفق الباحثين على ان العرب هم من الأقوام السامية أي أبناء وأحفاد سام بن نوح عليه السلام بن لمك بن متوشلح بن اخنوخ (إدريس) بن يرد بن مهلائيل بن قينان بن يانش بن شيت بن آدم عله السلام. نشات الأقوام السامية وترعرعت في الجزيرة المعروفة بجزيرة العرب. ورد الاسم لأول مرة في التاريخ في نقوش ترجع الى زمن شلما نصر الثالث سنة 856 قبل الميلاد. ثم تردد ذكر العرب في النقوش الاشورية والبابلية. ورد بشكل عروبو, عريبي, عربيان, عربيايا و عرابيا كما ورد في اسفار التوراة وبعض كتب اليونان.
و هم يتكون من تسعة أقوام. الأول، عاد الذين يسكنون في الأحقاف الواقعة بين يمان و أومان يعني في القسم الجنوبي من الجزيرة العرب. و الثاني، ثمود الذين يسكنون في الحجر و وادي القرى الواقعة بين الحجاز و الشام يعنى في القسم الشمالي من الجزيرة العرب. ثم طسم و جديس الذان يسكنان في اليمامة يعني في القسم الشرقي من الجزيرة على الخليج العربي. و الخامس، عمليق الذين يسكنون في عمان الواقعة في القسم الشرقي بجنوب من الجزيرة. و السادس، أميم الذين يسكنون في رمل علج الواقعة بين اليمامة و الشحر. و السابع، عبيل الذين يسكنون في الجحفة قريب من المدينة. و الثامن، عبد ضحيم الذين يسكنون في الطائف. و الأخير، حضروا الذين يسكنون في الرس.
Selengkapnya...
Minggu, 08 Januari 2012
SEJARAH PENDIDIKAN BAHASA ARAB DI INDONESIA
A. Pendidikan Bahasa Arab di Indonesia
Sejauh ini belum ada hasil penelitian yang memastikan sejak kapan studi bahasa Arab di Indonesia mulai dirintis dan dikembangkan. Asumsi yang selama ini berkembang adalah bahwa bahasa Arab sudah mulai dikenal oleh bangsa Indonesia sejak Islam dikenal dan dianut oleh mayoritas bangsa kita. Jika Islam secara meluas telah dianut oleh masyarakat kita pada abad ke-13, maka usia pendidikan bahasa Arab dipastikan sudah lebih dari 7 abad. Karena perjumpaan umat Islam Indonesia dengan bahasa Arab itu paralel dengan perjumpaannya dengan Islam. Dengan demikian, bahasa Arab di Indonesia jauh lebih “tua dan senior” dibandingkan dengan bahasa asing lainnya, seperti: Belanda, Inggris, Portugal, Mandarin, dan Jepang.
Pendidikan bahasa Arab di Indonesia sudah diajarkan mulai dari TK (sebagian) hingga perguruan tinggi. Berbagai potret penyelenggaraan pendidikan bahasa Arab di lembaga-lembaga pendidikan Islam setidaknya menunjukkan adanya upaya serius untuk memajukan sistem dan mutunya.
Secara teoritis, paling tidak ada empat orientasi pendidikan bahasa Arab sebagai berikut: Orientasi Religius, yaitu belajar bahasa Arab untuk tujuan memahami dan memahamkan ajaran Islam (fahm al-maqrû’). Orientasi ini dapat berupa belajar keterampilan pasif (mendengar dan membaca), dan dapat pula mempelajari keterampilan aktif (berbicara dan menulis).
Orientasi Akademik, yaitu belajar bahasa Arab untuk tujuan memahami ilmu-ilmu dan keterampilan berbahasa Arab (istimâ’, kalâm, qirâ’ah, dan kitâbah). Orientasi ini cenderung menempatkan bahasa Arab sebagai disiplin ilmu atau obyek studi yang harus dikuasai secara akademik. Orientasi ini biasanya identik dengan studi bahasa Arab di Jurusan Pendidikan bahasa Arab, Bahasa dan Sastra Arab, atau pada program Pascasarjana dan lembaga ilmiah lainnya.
Orientasi Profesional/Praktis dan Pragmatis, yaitu belajar bahasa Arab untuk kepentingan profesi, praktis atau pragmatis, seperti mampu berkomunikasi lisan (muhâdatsah) dalam bahasa Arab untuk bisa menjadi TKI, diplomat, turis, misi dagang, atau untuk melanjutkan studi di salah satu negara Timur Tengah, dsb.
Orientasi Ideologis dan Ekonomis, yaitu belajar bahasa Arab untuk memahami dan menggunaakan bahasa Arab sebagai media bagi kepentingan orientalisme, kapitalisme, imperialisme, dsb. Orientasi ini, antara lain, terlihat dari dibukanya beberapa lembaga kursus bahasa Arab di negara-negara Barat.
Pendidikan Bahasa Arab (PBA) di Indonesia relatif sudah tersebar di berbagai UIN, IAIN, STAIN, dan sebagian PTAI swasta seperti Universitas Islam Jakarta. Hanya saja, disiplin keilmuan ini masih tergolong “miskin” sumber daya manusia dan sumber-sumber studi (referensi). Sementara ini, yang tergolong memiliki SDM PBA cukup kuat adalah PBA FITK Jakarta (4 profesor, 4 doktor, dan 8 Magister). Menurut pengamatan penulis, yang agak memperihatinkan, terutama bagi PBA di luar UIN Jakarta yang masih miskin SDM, adalah bagaimana lembaga-lembaga itu mampu meningkatkan kualitas SDM dan memperkaya referensi sebagai basis pembelajaran, penelitian dan pengembangan ilmu-ilmu bahasa Arab. Dalam hal ketersediaan sumber belajar (buku, jurnal, koran Arab, media dan sebagainya), PBA UIN Jakarta reletif “tertolong” oleh keberadaan LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) yang berafiliasi pada Universitas al-Imâm Muhammad ibn Sa’ûd di Riyâdh. Lembaga ini tidak hanya mensuplay berbagai sumber belajar yang relatif memadai, melainkan juga membantu PBA memberikan native speaker dan koran-koran berbahasa Arab untuk PBA. Kalau saja LIPIA tidak ada atau jauh dari PBA UIN Jakarta, mungkin nasib PBA tidak jauh berbeda dengan PBA-PBA yang ada di luar Jakarta. Kurikulum PBA pada UIN, IAIN, dan STAIN tampaknya merupakan hasil “ijtihad institusional” masing-masing, bukan merupakan “ijtihad struktural” (baca: Depag RI). Sejauh ini belum pernah ada konsensus atau kesepakatan bersama mengenai pentingnya kerjasama atau networking antarPBA untuk merumuskan epistemologi, arah kebijakan, dan kurikulum PBA secara lebih luas dan komprehensif. Meskipun PBA FITK menjadi semacam “lokomotif atau kiblat” bagi PBA-PBA lainnya –antara lain karena berada di pusat dan menjadi sasaran studi banding bagi PBA-PBA lainnya—namun tuntutan dan kebutuhan untuk memperbaharui kurikulumnya sudah semakin mendesak, karena perkembangan ilmu-ilmu bahasa Arab, sains, teknologi, dan sistem sosial budaya cukup pesat. Dalam masyarakat dewasa ini mulai timbul keluhan atau kritik yang dialamatkan kepada dunia pendidikan tinggi Islam, termasuk PBA, bahwa lulusan PBA kurang memiliki kemandirian dan keterampilan berbahasa yang memadai, sehingga daya saing mereka rendah dibandingkan dengan alumni lembaga lain. Kelemahan daya saing ini perlu dibenahi dengan memberikan aneka “keterampilan plus”, seperti: keterampilan berbahasa Arab dan Inggris aktif (berbicara dan menulis)[3], keterampilan mengoperasikan berbagai aplikasi komputer, keterampilan meneliti, keterampilan manajerial, dan keterampilan sosial. 1. 1. Posisi Pengajaran Bahasa Arab di Indonesia 1. Bahasa Arab Sebagai Bahasa Agama Verbal Sebagai simbol ekspresi linguistik ajaran Islam, pengajaran bahasa Arab yang pertama di Indonesia adalah untuk memenuhi kebutuhan seorang muslim dalam menunaikan ibadah ritual, khususnya ibadah shalat. Sesuai dengan kebutuhan tersebut, materi yang diajarkan hanya terbatas pada doa-doa shalat dan surat-surat pendek al-Qur’an yang lazim dikenal dengan juz ‘amma. Metode yang lazim digunakan ialah metode abjadiyah (alphabetical method) yang terkenal dengan nama metode baghdadiyah. Metode ini menekankan pada kemampuan membaca huruf-huruf al-Qur’an (al-huruf al-hija’iyah) yang dimulai dari: (a) penyebutan huruf dengan namanya satu persatu dari alif samapai ya’ secara abjad sampai murid hafal nama-nama huruf tersebut secara terpisah atau satu persatu, kemudian (b) diajarkan kata-kata yang terdiri dari dua huruf , lalu tiga huruf, dan begitu seterusnya yang diberikan secara bertahap, kemudian meningkat pada (c) pengajaran harakat, dimulai dengan menyebutkan huruf yang disertai dengan nama harakatnya. 1. Bahasa Arab Sebagai Media/alat untuk Memahami Agama Seiring dengan berkembangnya waktu, metode dan pola pengajaran yang pertama di atas mulai mengalami pergeseran dan perkembangan ke arah yang lebih bermakna. Pengajaran bahasa Arab verbalistik sebagai mana di atas tidak cukup, karena al-Qur’an tidak hanya untuk dibaca sebagai sarana ibadah, melainkan juga sebagai pedoman hidup yang harus dipahami maknanya dan diamalkan ajaran-ajarannya. Oleh karena itu, muncullah pengajaran bahasa Arab dalam bentuk kedua dengan tujuan mendalami ajaran agama Islam. Pengajaran bahasa Arab bentuk kedua ini tumbuh dan berkembang di berbagai pondok pesantren salaf. Materi yang diajarkan mencakup fikih, aqidah, akhlaq, hadits, tafsir, dan ilmu-ilmu bahasa rab seperti nahwu, sharaf, dan balaghah dengan buku teks berbahasa Arab yang ditulis oleh para ulama dari berbagai abad di masa lalu. Metode yang digunakan adalah metode gramatika-tarjamah (thariqah al-qawa’id wa al-tarjamah/grammar-translation method) dengan teknik penyajian yang masih relatif tradisional, di mana guru (Kiai) dan para murid (santri) masing-masing memegang buku (kitab). Guru membaca dan mengartikan kata demi kata atau kalimat demi kalimat ke dalam bahasa daerah khas pesantren yang telah didekatkan kepada sensivitas bahasa Arab. Sedangkan tata bahasa (qawa’id) bahasa Arab diselipkan ke dalam kata-kata tertentu sebagai simbol yang menunjukkan fungsi suatu kata dalam kalimat. Santri hanya mencatat arti setiap kata atau kalimat Arab yang diucapkan artinya oleh guru, tanpa adanya interaksi verbal yang aktif dan produktif antara kiai dan santrinya. 1. Bahasa Arab Sebagai Media Komunikasi Meski pola pengajaran bahasa Arab dalam bentuk kedua di atas sangat dominan berlaku di berbagai pondok pesantren salaf hingga kini, dan diakui kontribusinya dalam memberikan pemahaman umat Islam Indonesia terhadap ajaran agamanya, namun tuntutan dunia komunikasi pada gilirannya menggiring perubahan baru pola pengajaran bahasa Arab. Interaksi antar bangsa menuntut umat Islam untuk tidak sekedar memiliki kemampuan berbahasa Arab reseptif (pasif), tetapi kemampuan berbahasa yang lebih aktif dan produktif. Semangat pembaruan ini diperkuat dengan munculnya para cendikiawan dan intelektual muda muslim dengan nuansa pemikiran yang segar, sekembali mereka dari menuntut ilmu di negeri pusat-pusat pendidikan di Timur Tengah, terutama Mesir. Pada masa inilah metode langsung (direct method / al-thariqah al-mubasyirah) mulai diterapkan dalam pengajaran bahasa Arab di Indonesia. Pengajaran bahasa Arab bentuk ketiga ini terdapat di berbagai pondok pesantren atau lembaga pendidikan Islam modern sejak awal abad ke-19. Dimulai di Padang Panjang oleh ustadz Abdullah Ahmad, Madrasah Adabiyah (1909), dua bersaudara Zaenuddin Labay al-Yunusi dan Rahmah Labay el-Yunusiyah, Diniyah Putra (1915) dan Diniyah Putri (1923), dan ustadz Mahmud Yunus, Normal School (1931). Kemudian ditumbuh-kembangkan oleh K.H. Imam Zarkasyi di Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah Gontor Ponorogo. Dalam sistem pengajaran bentuk ketiga ini, pelajaran agama pada tahun pertama diberikan sebagai dasar saja dengan menggunakan bahasa Indonesia. Sementara itu, sebagaian besar perhatian siswa dicurahkan kepada pelajaran bahasa Arab dengan metode langsung. Pada tahun kedua, ilmu tata bahasa Arab (nahwu-sharaf) mulai diberikan dalam bahasa Arab dengan metode induktif (al-thariqah al-istiqra’iyah), ditambah dengan latihan intensif qira’ah (reading), insya’ (writing), dan muhadatsah (speaking/conversation). Pelajaran agama juga disajikan dalam bahasa Arab. Dalam masa belajar enam tahun (pasca sekolah dasar), seorang lulusan perguruan Islam modern ini (setara dengan lulusan SLTA/SMA) telah mampu berkomunikasi dengan bahasa Arab secara lisan dan tulis, serta mampu membaca buku berbahasa Arab dalam berbagai subyek pengetahuan. Dalam perkembangannya, pengajaran bahasa Arab di perguruan Islam modern ini tidak hanya menggunakan metode langsung tapi mengikuti pembaruan-pembaruan yang terjadi di dunia pengajaran bahasa, misalnya metode aural-oral (al-thariqah al-sam’iyah al-syafawiyah) dan pendekatan komunikatif (al-thariqah al-itthishaliyah).
1. Bentuk Integrasi Selanjutnya, dari obsesi para pemerhati pengajaran bahasa Arab yang ingin mengintegrasikan antara bentuk pengajaran bahasa Arab yang kedua dan ketiga, maka muncullah bentuk pengajaran bahasa Arab keempat yaitu bentuk integrasi. Pada fase ini tujuan pengajaran bahasa Arab memiliki dua arah, yaitu pengajaran bahasa Arab untuk penguasaan kemahiran berbahasa dan pengajaran bahasa Arab untuk penguasaan pengetahuan lain dengan menggunakan wahana bahasa Arab. Selain itu, jenis bahasa yang dipelajari mencakup dua bahasa, yaitu bahasa Arab klasik dan modern. Penggabungan ini di satu sisi memiliki kelebihan karena dapat memberdayakan kompetensi peserta didik secara komprehensif, namun di sisi lain melahirkan ketidakmenentuan, karena keterbatasan sel-sel otak peserta didik untuk mengakomodasi keduanya secara bersamaan. Ketidakmenetuan ini bisa dilihat dari berbagai segi. Pertama dari segi tujuan, terdapat kerancuan antara mempelajari bahasa Arab untuk menguasai kemahiran berbahasa atau sebagai alat untuk menguasai pengetahuan lain yang menggunakan wahana bahasa Arab. Kedua dari segi jenis bahasa yang dipelajari, terdapat ketidakmenentuan apakah bahasa Arab klasik, bahasa Arab modern, atau bahasa Arab sehari-hari. Ketiga dari segi metode, terdapat kegamangan antara mempertahankan metode yang lama atau menggunakan metode yang baru. Meskipun demikian, pengajaran bahasa Arab bentuk keempat ini telah banyak dipergunakan hingga kini di berbagai lembaga pendidikan formal (madrasah dan sekolah umum) di Indonesia. Kebijakan ini diambil karena bentuk integrasi ini dipandang lebih aspiratif dengan perkembangan abad globalisasi, dengan terus mengupayakan berbagai cara untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terdapat di dalamnya. Begitu pula dengan kegamangan yang ada, setidaknya dapat memacu para pemerhati pengajaran bahasa Arab untuk menghadirkan tawaran positif bagi pengembangan metodologi pengajaran bahasa Arab. Akhirnya, bentuk-bentuk pengajaran bahasa Arab yang telah diuraikan di atas masih tetap eksis dan dipergunakan hingga saat ini, tentu dengan modifikasi, inovasi dan perkembangan masing-masing. Jika pengajaran bahasa Arab bentuk pertama dahulu berada di surau dan masjid, kini berkembang menjadi TPQ/TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) yang menjamur bukan hanya di pedesaan tapi juga marak di perkotaan. Metode yang digunakan semakin berkembang menjadi lebih praktis dan bervariasi, tidak hanya metode eja/abjad, tapi juga menggunakan metode iqra’, al-barqi, hattawiyah, al-nur dan sejenisnya. Perkembangan ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran beragama masyarakat dan kesdaran akan perlunya menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada anak-anak sejak usia dini. Sementara itu, pengajaran bahasa Arab bentuk kedua masih tetap dipertahankan di pondok-pondok pesantren salaf. Sedangkan pengajaran bahasa Arab bentuk ketiga yang menekankan bahasa Arab sebagai alat komunikasi banyak dipergunakan di pondok pesantren modern, dan berbagai lembaga pendidikan Islam modern. Adapun pengajaran bahasa Arab bentuk keempat juga masih tetap dipergunakan hingga kini di lemabaga pendidikan formal (madrasah dan sekolah umum) dan terus diupayakan penyempurnaannya, baik dari segi kurikulum, orientasi pengajarannya, materi yang diajarkan, metode dan strategi pengajarannya, serta media yang digunakan.[2] 1.
C. Pendidikan Bahasa Arab di Barat Bahasa Arab dikenal sebagai bahasa yang sulit.
“Bahasa Arab memberikan sejumlah tantangan bagi mereka yang menggunakan bahasa Inggris,” kata Dr. Omran. Tantangan itu misalnya dari cara membacanya dari kanan ke kiri, bunyi hurufnya yang masih terasa asing bagi pemakai bahasa Inggris dan tata bahasanya yang agak pelik. Dr Omran sudah lebih dari 20 tahun mengajar bahasa Arab bagi mahasiswa Amerika. Ia mengatakan, dengan sedikit kerja keras dan komitmen, setiap orang bisa cepat menguasai bahasa Arab dan lancar bicara dengan menggunakan bahasa itu. Namun menurut Dr. Michael Cooperson yang sudah mengajar bahasa Arab di sejumlah universitas bergengsi di AS seperti Harvard dan UCLA, tingkat kesulitan belajar bahasa Arab tergantung pada bahasa yang sering dipakai oleh mahasiswa bersangkutan. “Jika bahasa yang selalu digunakan berdialek sama dengan bahasa Arab, ini menguntungkan. Termasuk jika sebelumnya ada sudah biasa bicara dengan bahasa Hebrew atau bahasa Semit lainnya,” kata Dr Cooperson
Selengkapnya...
FiQih Nikah
Nikah menurut bahasa adalah الضمّ و الجمع yang berarti berkumpul. Sedangkan nikah menurut istilah adalah suatu akad (lahir-batin) antara wanita dan laki-laki yang mengandung hokum dibolehkannya wath’i (hubungan suami-istri) dengan menggunakan lafadz nikah atau tazwij. Syarat-syarat menikah Syarat bagi calon suami: - Muslim - Merdeka - Berakal - Adil - Benar-benar laki-laki - Tidak beristri 4 - Tidak memiliki hubungan mahram - Tidak dalam keadaan ihram / haji Syarat bagi calon istri: - Muslimah - Benar-benar perempuan - Mendapat izin dari wali - Tidak memiliki hubungan mahram - Tidak bersuami - Tidak dalam keadaan iddah - Tidak dalam keadaan ihram / haji Wanita-wanita yang haram dinikahi - Karena sebab perkawinan: menantu, ib tiri, mertua. - Karena sebab persusuan: saudara perempuan yang disusui ibu. - Karena sebab keturunan: ibu, anak kandung. Wali nikah: orang yang berhak menikahkan perempuan dengan laki-laki sesuai dengan syari’at Islam. Maca-macam wali nikah: - Wali mujbir: wali yang memiliki hak untuk menikahkan orang yang diwalikan tanpa meminta izin dan menanyakan terlebih dahulu pendapat mereka. - Wali hakim: kewalian pindah ke tangan hakim disebabkan 2 hal, yaitu adanya pertentangan dan tidak adanya wali nashab. - Wali adal: wali yang enggan / menolak untuk menikahkan perempuan yang ada di bawah kewaliannya. Urutan-urutan orang yang berhak menjadi wali nikah: - Ayah kandung - Kakek dari pihak ayah - Saudara laki-laki kandung - Saudara laki-laki seayah - Anak laki-laki saudara laki-laki kandung - Paman (saudara ayah kandung) - Anak laki-laki opaman - Wali hakim Lafadz ijab: (يا فلان) أنكحتك و زوجتك (فلانة) بنت (فلان) بمهر (.....) حالا Lafadz qobul: قبلت نكاحها وتزويجها بالمهر المذكور Pernikahan yang dilarang: - Nikah muth’ah: nikah dengan menyebut batas waktu tertentu ketika menikah - Nikah syighar: pernikahan 2 jodoh (empat orang) dengan menjadikan kedua perempuan tu sebagai mahar masing-masing. - Nikah tahlil: nikah yang dilakukan seseorang dengan tujuan untuk menghalalkan perempuan yang dinikahinya dinikahi lagi oleh bekas suaminya. - Nikah silang: nikah yang dilakukan oleh orang yang berbeda agama. - Nikah khadan: nikah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi yang mana laki-laki menjadikan perempuan sebagai istri simpanannya tanpa melalui pernikahan yang syah menurut syara’. Hikmah pernikahan: - Terpeliharanya ketenangan hidup - Terpeliharanya diri dari perbuatan zina - Memperkuat persatuan dan kesatuan - Melestarikan keturunan secara halal dan jelas Selengkapnya...
Ayat-Ayat Alquran Yang Menjelaskan Tentang Bahasa Arab
1. Qs. An-Nahl: 103
“Dan sesungguhnya kami mengetahui bahwa mereka berkata: "Sesungguhnya al Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)". Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) muhammad belajar kepadanya bahasa 'ajam[840], sedang al quran adalah dalam bahasa arab yang terang.”
2. Qs. Asy-Syu’ara’: 192-195
“dan Sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril). Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.”
3. Qs. Az-Zuhruf: 3
“Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).”
4. Qs. Al-Fushilat: 3
“Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, Yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui.”
5. Qs. Az-Zumar: 28
“(ialah) Al Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.”
6. Qs. Al-Hijr:9
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”
Selengkapnya...