Assalamu'alaikum wr.wb
A'udzu billahi minassyaithonirrajim, Bismillahirrahmaanirrahim. Alhamdulillahi robbil 'alamin. wa bihi nasta'inu 'ala umuriddunya waddin. wa sholatu wa salamu 'ala asyrofil anbiya'i wal mursalin sayyidina wa maulana Muhammadin wa'ala alihi wa ash_habihi ajmain. Amma ba'du...
yang saya hormati para Alim Ulama',
yang saya hormati Ust. ..................., selaku pengasuh pesantren Subulus Salam,
yang saya hormati para pengurus pesantren Subulus Salam,
dan teman-teman yang saya cintai
Selengkapnya...
Selasa, 05 Februari 2013
Kerangka MC
Minggu, 03 Februari 2013
Kalimat Efektif
Menurut Wiyanto (2004:48), Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat menyampaikan pesan (informasi) secara singkat, lengkap, dan mudah diterima oleh pendengar. Yang dimaksud singkat adalah hemat dala penggunaan kata-kata. Hanya kata-kata yang diperlukan yang digunakan. Sebaliknya, Kata-kata yang mubadzir tidak perlu digunakan.Penggunaan kata-kata mubadzir berarti pemborosan. Hal itu tentu bertentangan dengan prinsip kalimat efektif yang hemat. Meskipun hemat dalam penggunaan kata, Kalimat efektif tetap harus lengkap, Artinya kalimat itu harus disampaikan. Sedemikian lengkapnya sehingga kalimat efektif mampu menimbulkan pengaruh, meninggalkan kesan, atau menghasilkan akibat. Selanjutnya, kalimat efektif harus dapat dipahami pendengar dengan cara yanng mudah dan menarik. Selain itu, kalimat efektif harus mematuhi kaidah struktur bahasa dan mencerminkan cara berpikir yang masuk akal (logis). Syarat-syarat kalimat efektif 1. Koherensi Yaitu hubungan timbal-balik yang baik dan jelas antara unsur-unsur (kata atau kelompok kata) yang membentuk kata itu. Setiap bahasa memiliki kaidah-kaidah tersendiri bagaimana mengurutkan gagasan tersebut. Ada bagian-bagian kalimat yang memiliki hubungan yang lebih erat sehingga tidak boleh dipisahkan, ada yang lebih renggang kedudukannya sehingga boleh ditempatkan dimana saja, asal jangan disisipkan antara kata-kata atau kelompok-kelompok kata yang rapat hubungannya. 2. Kesatuan Syarat kalimat efektif haruslah mempunyai struktur yang baik. Artinya, kalimat itu harus memiliki unsure-unsur subyek dan predikat, atau bisa ditambah dengan obyek, keterangan, dan unsure-unsur subyek, predikat, obyek, keterangan, dan pelengkap, melahirkan keterpautan arti yang merupakan cirri keutuhan kalimat. Contoh: Ibu menata ruang tamu tadi pagi. Dari contoh tersebut, kalimat ini jelas maknanya, hubungan antar unsur menjadi jelas sehingga ada kesatuan bentuk yang membentuk kepaduan makna. Jadi, harus ada keseimbangan antara pikiran atau gagasan dengan struktur bahasa yang digunakan. 3. Kehematan Kehematan yang dimaksud berupa kehematan dalam pemakaian kata, frase atau bentuk lainnya yang dianggap tidak diperlukan. Kehematan itu menyangkut soal gramatikal dan makna kata. Tidak berarti bahwa kata yang menambah kejelasan kalimat boleh dihilangkan. Berikut unsur-unsur penghematan yang harus diperhatikan: Frase pada awal kalimat Contoh : Sulit untuk menentukan diagnosa jika keluhan hanya berupa sakit perut, menurut para ahli bedah. Pengurangan subyek kalimat Contoh: Hadirin serentak berdiri setelah mereka mengetahui mempelai memasuki ruangan. (salah) 4. Paralelisme Paralelisme atau kesejajaran adalah kesamaan bentuk kata atau imbuhan yang digunakan dalam kalimat itu. Jika pertama menggunakan verba, bentuk kedua juga menggunakan verba. Jika kalimat pertama menggunakan kata kerja berimbuhan me-, maka kalimat berikutnya harus menggunakan kata kerja berimbuhan me- juga. Contoh: Kakak menolong anak itu dengan dipapahnya ke pinggir jalan. (tidak efektif) Kakak menolong anak itu dengan memapahnya ke pinggir jalan. (efektif) Anak itu ditolong kakak dengan dipapahnya ke pinggir jalan. (efektif) Harga sembako dibekukan atau kenaikan secara luwes. (tidak efektif) Harga sembako dibekukan atau dinaikkan secara luwes. (efektif) 5. Penekanan Gagasan pokok atau misi yang ingin ditekankan oleh pembicara biasanya dilakukan dengan memperlambat ucapan, melirihkan suara, dan sebagainya pada bagian kalimat tadi. Dalam penulisan ada berbagai cara untuk memberikan penekanan yaitu : Posisi dalam kalimat Untuk memberikan penekanan dalam kalimat, biasanya dengan menempatkan bagian itu di depan kalimat. Pengutamaan bagian kalimat selain dapat mengubah urutan kata juga dapat mengubah bentuk kata dalam kalimat. 6. Urutan yang logis Sebuah kalimat biasanya memberikan sebuah kejadian atau peristiwa. Kejadian yang berurutan hendaknya diperhatikan agar urutannya tergambar dengan logis. Urutan yang logis dapat disusun secara kronologis, dengan penataan urutan yang makin lama makin penting atau dengan menggambarkan suatu proses. Contoh : Kehidupan anak muda itu sulit dan tragis. 7. Kevariasian Untuk menghindari kebosanan dan keletihan saat membaca, diperlukan variasi dalam teks. Ada kalimat yang dimulai dengan subyek, predikat atau keterangan. Ada kalimat yang pendek dan panjang. a). Cara memulai Subyek pada awal kalimat. Contoh: Bahan biologis menghasilkan medan magnetis dengan tiga cara. Predikat pada awal kalimat (kalimat inversi sama dengan susun balik) Contoh: Turun perlahan-lahan kami dari kapal yang besar itu. Kata modal pada awal kalimat Dengan adanya kata modal, maka kalimat-kalimat akan berubah nadanya, yang tegas menjadi ragu tau sebaliknya dan yagn keras menjadi lembut atau sebaliknya. Untuk menyatakan kepastian digunakan kata: pasti, pernah, tentu, sering, jarang, kerapkali, dan sebagainya. Untuk menyatakan ketidakpastian digunakan : mungkin, barangkali, kira-kira, rasanya, tampaknya, dan sebagainya. Untuk menyatakan kesungguhan digunakan: sebenarnya, sesungguhnya, sebetulnya, benar, dan sebagainya. Contoh: Sering mereka belajar bersama-sama. b). Panjang-pendek kalimat. Tidak selalu kalimat pendek mencerminkan kalimat yang baik atau efektif, kalimat panjang tidak selalu rumit. Akan sangat tidak menyenangkan bila membaca karangan yang terdiri dari kalimat yang seluruhnya pendek-pendek atau panjang-panjang. Dengan menggabung beberapa kalimat tunggal menjadi kalimat majemuk setara terasa hubungan antara kalimat menjadi lebih jelas, lebih mudah dipahami sehingga keseluruhan paragraf merupakan kesatuan yang utuh. c). Jenis kalimat. Biasanya dalam menulis, orang cenderung menyatakannya dalam wujud kalimat berita. Hal ini wajar karena dalam kalimat berita berfungsi untuk memberi tahu tentang sesuatu. Dengan demikian, semua yang bersifat memberi informasi dinyatakan dengan kalimat berita. Tapi, hal ini tidak berarti bahwa dalam rangka memberi informasi, kalimat tanya atau kalimat perintah tidak dipergunakan, justru variasi dari ketiganya akan memberikan penyegaran dalam karangan. d). Kalimat aktif dan pasif. Selain pola inversi, panjang-pendek kalimat, kalimat majemuk dan setara, maka pada kalimat aktif dan pasif dapat membuat tulisan menjadi bervariasi. e). Kalimat langsung dan tidak langsung. Biasanya yang dinyatakan dalam kalimat langsung ini adalah ucapan-ucapan yang bersifat ekspresif. Tujuannya tentu saja untuk menghidupkan paragraf. Kalimat langsung dapat diambil dari hasil wawancara, ceramah, pidato, atau mengutip pendapat seseorang dari buku. 8. Logis/Nalar Suatu kalimat dikatakan logis apabila informasi dalam kalimat tersebut dapat diterima oleh akal atau nalar. Logis atau tidaknya kalimat dilihat dari segi maknanya, bukan strukturnya. Kelogisan kalimat tampak pada gagasan dan pendukungnya yang dipaparkan dalam kalimat. Suatu kalimat dikatakan logis apabila gagasan yang disampaikan masuk akal, hubungan antar gagasan dalam kalimat masuk akal, dan hubungan gagasan pokok serta gagasan penjelas juga masuk akal. Contoh kalimat salah nalar: a. Waktu dan tempat dipersilahkan. (siapa yang dipersilahkan) b. Silakan maju ke depan. (maju selalu ke depan) Selengkapnya...
Berbicarat yang Baik, Tepat dan Santun
Berbicara dengan baik adalah berbicara dengan memilih kalimat yang baik, tepat maknanya, dan santun. Dalam penggunaan bahasa, kalimat yang baik, tepat, dan santun akan lebih komunikatif. Sudahkah kamu berbicara dengan baik, santun dalam kehidupan sehari-hari? Jika sudah, itu bagus. Berarti kamu telah berbahasa dengan baik. 1. Kalimat Komunikatif Dalam bahasa Indonesia kalimat komunikatif adalah kalimat yang baik, tepat, dan santun. Suatu kalimat dikatakan komunikatif jika maksudnya bisa dipahami oleh pendengar atau pembacanya secara benar. Supaya kalimat itu bisa ditangkap pendengar, kalimat harus mengandung kejelasan gagasannya. Suatu kalimat akan jelas gagasannya jika tersusun menurut pola penyusunan atau kaidah yang benar. Jadi syarat kalimat kominikatif adalah: a. Mengandung kejelasan isi (keterampilan pesan) b. Tersusun secara cermat dan mengikuti kaidah yang benar. c. Mengandung penalaran yang logis. 2. Kalimat Komunikatif tetapi Tidak Cermat Kalimat komunikatif tetapi tidak cermat sering kita tenukan berupa: a. Ketidaklengkapan unsurnya. b. Ketidaktepatan penggunaan bentuk katanya. c. Ketidaktepatan makna katanya. d. Kesalahan penalarannya. Contoh: 1) Dalam sinetron itu mengisahkan perjuangan seorang dokter di pedalaman Papua. 2) Acara selanjutnya sambutan Bapak Camat. Waktu dan tempat kami persilakan. 3) Yang sudah hadir dimohon absent dulu. Kalimat Komunikatifnya: 1) Sinetron itu mengisahkan perjuangan seorang dokter di pedalaman Papua. 2) Acara selanjutnya sambutan Bapak Camat. Kepada Bapak Camat, kami persilakan. 3) Peserta dimohon mengisi daftar hadir. 3. Kalimat yang Tidak Komunikatif, tetapi Cermat. Adakalanya kalimat yang kita susun secara cermat tetapi tidak komunikatif. Tentulah hal ini ada penyebabnya, yaitu: a. Karena kalimat terlalu kompleks, sehingga pembaca kesulitan menemukan induk kalimatnya. b. Kalimat terlalu pendek atau sederhana, sehingga cenderung membosankan. 4. Kalimat yang Santun Kalimat yang santun dapat diidentifikasi dari reaksi pembaca atau pendengar yang menjadi sasaran kalimat itu. Beberapa penyebab suatu kalimat dapat membangkitkan emosi: a. Bernada merendahkan, meremehkan, atau menghina. b. Bernada arogan, memaksa, atau mengancam. c. Bernada menyindir atau menuduh. d. Tidak proporsional. e. Tidak pada tempatnya. Selengkapnya...
Sabtu, 02 Februari 2013
Pidato
Pengertian Pidato Pidato adalah suatu ucapan dengan susunan yang baik untuk disampaikan kepada orang banyak. Contoh pidato yaitu seperti pidato kenegaraan, pidato menyambut hari besar, pidato pembangkit semangat, pidato sambutan acara atau event, dan lain sebagainya. Pidato yang baik dapat memberikan suatu kesan positif bagi orang-orang yang mendengar pidato tersebut. Kemampuan berpidato atau berbicara yang baik di depan publik / umum dapat membantu untuk mencapai jenjang karir yang baik. Jenis-Jenis / Macam-Macam / Sifat-Sifat Pidato Berdasarkan pada sifat dari isi pidato, pidato dapat dibedakan menjadi : 1. Pidato Pembukaan, adalah pidato singkat yang dibawakan oleh pembaca acara atau mc. 2. Pidato pengarahan adalah pdato untuk mengarahkan pada suatu pertemuan. 3. Pidato Sambutan, yaitu merupakan pidato yang disampaikan pada suatu acara kegiatan atau peristiwa tertentu yang dapat dilakukan oleh beberapa orang dengan waktu yang terbatas secara bergantian. 4. Pidato Peresmian, adalah pidato yang dilakukan oleh orang yang berpengaruh untuk meresmikan sesuatu. 5. Pidato Laporan, yakni pidato yang isinya adalah melaporkan suatu tugas atau kegiatan. 6. Pidato Pertanggungjawaban, adalah pidato yang berisi suatu laporan pertanggungjawaban. Metode Pidato Teknik atau metode dalam membawakan suatu pidatu di depan umum : 1. Metode menghapal, yaitu membuat suatu rencana pidato lalu menghapalkannya kata per kata. 2. Metode serta merta, yakni membawakan pidato tanpa persiapan dan hanya mengandalkan pengalaman dan wawasan. Biasanya dalam keadaan darurat tak terduga banyak menggunakan tehnik serta merta. 3. Metode naskah, yaitu berpidato dengan menggunakan naskah yang telah dibuat sebelumnya dan umumnya dipakai pada pidato-pidato resmi. Persiapan Pidato Sebelum memberikan pidato di depan umum, ada baiknya untuk melakukan persiapan berikut ini : 1. Wawasan pendengar pidato secara umum 2. Mengetahui lama waktu atau durasi pidato yang akan dibawakan 3. Menyusun kata-kata yang mudah dipahami dan dimengerti. 4. Mengetahui jenis pidato dan tema acara. 5. Menyiapkan bahan-bahan dan perlengkapan pidato, dsb. Teknik Penyajian Berpidato yang Baik Dalam menyampaikan materi pidato diperlukan strategi penyampaian yang baik, hal ini di maksud agar menarik simpati pendengar. OLeh karena itu, di bawah ini adalah beberapa Teknik penyampaian pidato yang baik . 1) Menggunakan bahasa yang mudah dipahami pendengar. 2) Menggunakan contoh dan ilustrasi yang mempermudah pendengar dalam memahami konsep yang abstrak apabila diperlukan. 3) Memberi penekanan dengan cara mengadakan variasi dalam gaya penyajian. 4) Mengorganisasikan materi sajian dengan urut dari hal mudah ke hal yang sulit dan lengkap. 5) Menghindari penggunaan kata-kata yang meragukan dan berlebih-lebihan. 6) Program atau materi disajikan dengan urutan yang jelas. 7) Berikan ikhtisar butir-butir yang penting, baik selama sajian maupun pada akhir sajian. Gunakan variasi suara dalam memberikan penekanan pada hal-hal yang penting. 9) Kejelasan lafal, intonasi, nada, dan sikap yang tepat agar pendengar tidak bosan atau terkesan monoton. 10) Membuat dan mengajukan pertanyaan untuk mengetahui pemahaman pendengar, minat pendengar, atau sikap pendengar, jika diperlukan. 11) Menggunakan nada suara, volume suara, kecepatan bicara secara bervariasi. 12) Menggunakan bahasa tubuh yang mendukung komunikasi Anda dengan pendengar. Selengkapnya...
GAYA BAHASA
1. Alegori Yaitu gaya bahasa yang memperlihatkan perbandingan yang utuh. Alegori merupakan metafora yng diperluas dan berkesinambungan, biasanya mengandung pendidikan dan ajaran moral. Contoh : Berhati-hatilah dalam mengemudikan bahtera kelangsungan kehidupan keluargamu, sebab lautan kehidupan ini penuh ranjau, topan yang ganas, batu karang, dan gelombang yang setiap saat dapat menghancurleburkan. Oleh karena itu, nakhoda harus selalu seia sekata dan satu tujuan agar dapat mencapai pantai bahagia dengan selamat. 2. Paradoks Yaitu gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta yang ada. Contoh : ▪ Mereka merasa tenang di tengah hiruk pikuknya Kota Surabaya. ▪ Musuh sering merupakan kawan yang akrab. 3. Klimaks Yaitu gaya bahasa yang berupa susunan ungkapan yang makin lama makin mengandung penekanan. Contoh : Dua hari yang lalu korban gempa bumi berjumlah lima belas orang, kemarin bertambah menjadi dua puluh orang, sekarang terhitung sejumlah tiga puluh orang. 4. Antiklimaks Merupakan gaya bahasa kebalikan dari klimaks. Dalam gaya bahasa antiklimaks, susunan ungkapannya disusun makin lama makin menurun. Contoh : Bantuan itu disampaikan lewat bupati, lalu diserahkan kepada camat yang segera menyerahkan bantuan itu ke desa-desa yang mengalami bencana. 5. Sinekdoke a. Pars pro toto, yaitu gaya bahasa yang menyebutkan sebagian, tetapi yang dimaksud keseluruhan ( meluas ). Contoh : ▪ Sudah lama Kak Rian tidak menampakkan batang hidungnya. ▪ Setiap kepala dikenakan sumbangan sebesar Rp 1.000,- b. Totem pro parte, yaitu gaya bahasa yang menyebutkan keseluruhan, tetapi yang dimaksudkan sebagian ( menyempit ). Contoh : ▪ Pertandingan itu berakhir dengan kemenangan Medan. ▪ Bangsa Indonesia bersorak gembira ketika Tim Piala Thomas berhasil merebut piala kebanggan itu. 6. Alusio Yaitu gaya bahasa yang menunjuk secara tidak langsung ke suatu peristiwa, tokoh, dan tempat yang sudah dikenal oleh banyak pembaca. Gaya bahasa ini juga menggunakan peribahasa, ungkapan, atau sampiran pantun yang isinya telah diketahui oleh umum. Contoh : ▪ Jangan seperti kura-kura dalam perahu. ▪ Sudah gaharu cendana pula. 7. Eufemisme Yaitu gaya bahasa yang berupa ungkapan-ungkapan halus untuk menggantikan ungkapan yang dirasa kasar, kurang sopan, atau kurang menyenangkan. Contoh : ▪ Sayang, anak setampan itu hilang akal. ▪ Ayahnya sudah tak ada di tengah-tengah mereka. 8. Perumpamaan Yaitu perbandingan dua hal yang pada hakikatnya berlainan, tetapi sengaja dianggap sama. Perbandingan ini secara eksplisit diterangkan oleh pemakaian kata seperti, sebagai, ibarat, umpama, bak, dan laksana. Contoh : ▪ Dua bersaudara itu seperti minyak dengan air, tidak pernah rukun. ▪ Keluarga Hasmanan bagai mendapat durian runtuh, mendapat warisan yang tidak pernah diduga. 9. Metafora Yaitu perbandingan yang implisit, tanpa kata pembanding seperti atau sebagai di antara dua hal yang berbeda. Contoh : ▪ Para kuli tinta mendengarkan dengan tekun penjelasan tentang kenaikan harga BBM. ▪ Benarkah dewi malam lambang kecantikan seorang wanita ? ▪ Mereka telah menjadi sampah masyarakat. 10. Personifikasi atau Penginsanan Yaitu gaya bahasa yang menggunakan sifat-sifat insani untuk barang yang tidak bernyawa. Contoh : ▪ Api membara menjilat rumah-rumah di sekitarnya. ▪ Dengarlah nyanyian pucuk-pucuk cemara. ▪ Ombak bergulung-gulung, lautan mengamuk. ▪ Angin yang meraung di tengah malam yang gelap itu menambah lagi ketakutan kami. 11. Pleonasme Yaitu gaya bahasa yang menggunakan kata-kata mubazir. Contoh : ▪ Saya menyaksikan pembakaran rumah itu dengan mata kepala saya sendiri. ▪ Segala caci maki dan sumpah serapah itu didengar Kamil dengan telinganya sendiri. 12. Hiperbola Yaitu gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan, atau membesar-besarkan sesuatu yang dimaksud dengan tujuan memberi penekanan pada suatu pernyataan atau situasi, memperhebat, serta meningkatkan kesan dan pengaruhnya. Contoh : ▪ Teriakan para pengunjuk rasa itu membelah angkasa. ▪ Kenangan indah itu tak terlupakan selama hayat dikandung badan. ▪ Cita-citanya melangit, padahal tak terlihat ada usahanya. ▪ Ketegangan di negara itu telah memuncak. 13. Litotes Yaitu gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang dikecil-kecilkan, dikurangi dari kenyataan yang sebenarnya, tujuannya untuk merendahkan diri. Litotes merupakan lawan dari hiperbola. Contoh : ▪ Pooling pendapat itu tidak mengecewakan lembaga swadaya masyarakat, penyelenggaranya. ▪ Jakarta sebagai kota metropolitan bukanlah kota yang kecil dan sepi. ▪ Kalau ada waktu datanglah sekali-sekali ke gubuk kami. 14. Ironi Yaitu gaya bahasa yang berupa sindiran halus berupa pernyataan yang maknanya bertentangan dengan makna sebenarnya. Contoh : ▪ Pagi benar engkau datang, Hen! Sekarang, baru pukul 11.00. ▪ Sepeda motormu bagus benar, catnya sudah mengelupas, dan joknya sudah bertambal-tambal. ▪ Tidak diragukan lagi bahwa Andalah orangnya, sehingga semua kebijaksanaan akan lenyap bersamamu. 15. Metonimia Yaitu gaya bahasa yang menggunakan nama cirri atau nama hal yang ditautkan dengan segala sesuatu sebagai penggantinya. Contoh : ▪ Sang Merah Putih berkibar dengan gagahnya di angkasa. ▪ Ia membeli sebuah Chevrolet. ▪ Pelajarilah H.B. Jassin halaman 201. 16. Antitesis Yaitu sebuah gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan, dengan mempergunakan kata-kata atau kelompok kata yang berlawanan. Gaya ini timbul dari kalimat berimbang. Contoh : ▪ Mereka sudah kehilangan banyak dari harta bendanya, tetapi mereka juga telah banyak memperoleh keuntungan daripadanya. ▪ Kaya-miskin, tua-muda, besar-kecil, semuanya mempunyai kewajiban terhadap keamanan bangsa dan negara. ▪ Hingga kini kusimpan engkau mesra dalam lubuk hatiku, tetapi mulai kini engkau kuenyahkan jauh-jauh bagai musuh yang kejam. 17. Simile atau Persamaan Yaitu gaya bahasaa yang menyatakan perbandingan yang bersifat eksplisit, yaitu yang menggunakan semacam alat formal untuk menyatakan hubungan, seperti : seperti, misalnya, sama, bagai, laksana, bagaikan, dan sebagainya. Contoh : ▪ Kikirnya seperti kepiting batu. ▪ Matanya seperti bintang timur. ▪ Bibirnya seperti delima merekah. Simile atau persamaan masih dapat dibedakan lagi atas : a. Persamaan tertutup, yaitu persamaan yang mengandung perincian mengenai sifat persamaan itu. Pembaca atau pendengar diharapkan akan mengisi sendiri sifat persamaannya. Contoh : Saat menantikan pengumuman hasil ujian terasa tegang seperti mengikuti pertandingan bulu tangkis dalam set terakhir dengan kedudukan 14 – 14. b. Persamaan terbuka, yaitu persamaan yang tidak mengandung perincian mengenai sifat persamaan itu. Contoh : Saat menantikan pengumuman hasil ujian terasa seperti mengikuti pertandingan bulu tangkis dalam set terakhir dengan kedudukan 14 – 14. 18. Parabel ( Parabola ) Yaitu suatu istilah yang dipergunakan untuk menyebut cerita-cerita khayal dalam kitab suci yang bersifat alegoris untuk menyampaikan kebenaran moral atau spiritual. Gaya bahasa parabel terkandung dalam seluruh karangan. Dengan secara halus tersimpul dalam karangan itu pedoman hidup, falsafah hidup yang harus digali di dalamnya. Parable mempunyai nilai didaktis ( mendidik ). Contoh : Bhagawat Gita ( terjemahan Amir Hamzah ), Hikayat Kalilah dan Daminah ( Baidaba ), Hikayat Mahabharata, Aki ( Idrus ), Bayan Budiman. 19. Simbolik Yaitu gaya bahasa yang melukiskan sesuatu dengan mempergunakan benda-benda sebagai simbol atau perlambang. Contoh : ▪ Bunglon, lambang orang yang tak berpendirian tetap. ▪ Melati, lambang kesucian. ▪ Pahlawan, lambang keberanian. 20. Tropen Yaitu gaya bahasa kiasan yang mempergunakan kata-kata yang tepat dan sejajar maknanya dengan pengertian yang dimaksud. Contoh : ▪ Besok Bapak Presiden akan terbang ke Jepang. ▪ Sepanjang hari ia berkubur saja dalam kamarnya. ( tidak keluar-keluar ). ▪ Sudah berhari-hari ia mengukur jalan saja di kota itu. ( mondar-mandir tak jelas tujuannya ). 21. Asosiasi Yaitu semacam gaya bahasa yang memberikan perbandingan terhadap benda yang sudah disebutkan. Contoh : ▪ Mukanya pucat, bagai bulan kesiangan. ▪ Suaranya merdu, bak buluh perindu. ▪ Suaranya sember, seperti perian pecah. 22. Antonomasia Yaitu penggunaan kata sifat sebagai nama diri, atau nama diri sebagai nama jenis. Apabila seseorang kita panggil bukan dengan nama aslinya atau nama dirinya, melainkan dengan nama panggilan yang disebabkan oleh sifat yang dimilikinya atau ciri tubuhnya. Contoh : ▪ Orang yang tinggi atau jangkung dipanggil si Jangkung. ▪ Yang Mulia tak dapat menghadiri pertemuan ini. ▪ Pangeran yang meresmikan pembukaan seminar itu. 23. Perifrase atau Perifrasis Yaitu gaya bahasa penguraian. Atau pengungkapan yang panjang sebagai pengganti pengungkapan yang lebih pendek. Kata-kata yang berlebihan itu sebenarnya dapat diganti dengan satu kata saja. Contoh : ▪ Ia telah beristirahat dengan damai. ( = mati, meninggal ) ▪ Jawaban bagi permintaan Saudara adalah tidak. ( = ditolak ) ▪ Ketika Sang Surya keluar dari peraduannya, berangkatlah kami. ( = pagi-pagi ) 24. Repetisi Yaitu perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Contoh : ▪ Selama nafsuku masih mengalun, selama darahku masih mengalir di tubuhku, selama jantungku masih berdebur, aku belum akan menghentikan usahaku. ▪ Atau maukah kau pergi bersama serangga-serangga tanah, pergi bersama kecoak-kecoak, pergi bersama mereka yang menyusupi tanah, menyusupi alam ? Macam-macam repetisi yang pada prinsipnya didasarkan pada tempat kata yang diulang dalam baris, klausa, atau kalimat. Yang penting di antaranya : a. Epizeuksis, yaitu repetisi yang bersifat langsung, artinya kata yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut. Contoh : Kita harus bekerja, bekerja, sekali lagi bekerja untuk mengejar semua ketinggalan kita. b. Tautotes, yaitu repetisi atas sebuah kata berulang-ulang dalam sebuah konstruksi. Contoh : Kau menuding aku, aku menuding kau, kau dan aku menjadi seteru. c. Anafora, yaitu repetisi yang berwujud perulangan kata pertama pada tiap baris atau kalimat berikutnya. Contoh : Bahasa yang baku pertama-tama berperan sebagai pemersatu dalam pembentukan suatu masyarakat bahasa-bahasa yang bermacam-macam dialeknya. Bahasa yang baku akan mengurangi perbedaan variasi dialek Indonesia secara geografis, yang tumbuh karena kekuatan bawah-sadar pemakai bahasa Indoneisa, yang bahasa pertamanya suatu bahasa Nusantara. Bahasa yang baku itu akan mengakibatkan selingan bentuk yang sekecil-kecilnya. d. Epistrofa, yaitu repetisi yang berwujud perulangan kata atau frasa pada akhir baris atau kalimat berurutan. Contoh : Bumi yang kaudiami, laut yang kaulayari adalah puisi Udara yang kauhirupi, air yang kauteguki adalah puisi Kebun yang kautanami, bukit yang kaugunduli adalah puisi Gubuk yang kauratapi, gedung yang kautinggali adalah puisi e. Simploke ( symploche ), yaitu repetisi pada awal dan akhir beberapa baris atau kalimat berturut-turut. Contoh : kamu bilang hidup ini brengsek. Aku bilang biarin kamu bilang hidup ini nggak punya arti. Aku bilang biarin kamu bilang aku nggak punya kepribadian. Aku bilang biarin kamu bilang aku nggak punya pengertian. Aku bilang biarin f. Mesodiplosis, yaitu repetisi di tengah baris-baris atau beberapa kalimat berurutan. Contoh : Pegawai kecil jangan mencuri kertas karbon Babu-babu jangan mencuri tulang-tulang ayam goring Para pembesar jangan mencuri bensin Para gadis jangan mencuri perawannya sendiri g. Epanalepsis, yaitu pengulangan yang berwujud kata terakhir dari bari, klausa atau kalimat, mengulang kata pertama. Contoh : ▪ Kita gunakan pikiran dan perasaan kita. ▪ Kami cintai perdamaian karena Tuhan kami. ▪ Berceritalah padaku, ya malam, berceritalah. ▪ Kuberikan setulusnya, apa yang harus kuberikan. h. Anadiplosis, yaitu kata atau frasa terakhir dari suatu klausa atau kalimat menjadi kata atau frasa pertama dari klausa atau kalimat berikutnya. Contoh : dalam laut ada tiram, dalam tiram ada mutiara dalam mutiara : ah tak ada apa dalam baju ada aku, dalam aku ada hati dalam hati : ah tak apa jua yang ada dalam syair ada kata, dalam kata ada makna dalam makna : Mudah-mudahan ada Kau ! Istilah anadiplosis sering dipakai secara timbal balik dengan istilah epanadiplosis dan epanastrofa. 25. Anafora Yaitu repetisi yang berwujud perulangan kata pertama pada tiap baris atau kalimat berikutnya ( perulangan kata atau frase yang sama bukan dalam sebuah kalimat, melainkan dalam dua atau lebih kalimat berurutan. Pengulangan kata atau frase itu khususnya terdapat pada awal kalimat yang berurutan ). Contoh : Bahasa yang baku pertama-tama berperan sebagai pemersatu dalam pembentukan suatu masyarakat bahasa-bahasa yang bermacam-macam dialeknya. Bahasa yang baku akan mengurangi perbedaan variasi dialek Indonesia secara geografis, yang tumbuh karena kekuatan bawah-sadar pemakai bahasa Indoneisa, yang bahasa pertamanya suatu bahasa Nusantara. Bahasa yang baku itu akan mengakibatkan selingan bentuk yang sekecil-kecilnya. Junjunganku apatah kekal Apatah tetap Apatah tak bersalin rupa Apatah baqa sepanjang masa . . . . ( Dari Buah Rindu, Amir Hamzah ) 26. Epifora Yaitu gaya bahasa kebalikan anafora ( persajakan ). Epifora menggunakan perulangan kata atau bunyi pada akhir beberapa kalimat atau larik. Contoh : Kekasihku seperti nyawa pun adalah terkasih dan mulia juga, Dan nyawaku pun, mana daripada nyawa itu jauh ia juga; Jika seribu tahun lamanya pun hidup ada sia-sia juga. Hanya pada nyawa itu hampir dengan sedia suka juga, Nyawa itu yang menghidupkan senantiasa nyawa manusia juga, Dan menghilangkan cintanya pun itu kekasihku yang setia juga; Kekasihku itu yang mengenak hatiku dengan rahasia juga. Bukhari yang ada serta nyawa itu ialah berbahagia juga. ( Gazal dalam Puisi Lama, STA ) Kelapa jatuh, Mumbang jatuh. Yang tua mati, Yang muda mati. 27. Paralelisme Yaitu pemakaian yang berulang-ulang ujaran yang sama dalam bunyi, tata bahasa, atau makna, atau gabungan dari kesemuanya ; ciri khas dan bahasa puitis ( dalam puisi ). Dalam paralelisme yang diulang adalah kata, bagian kata, atau pengertiannya. Atau semacam gaya bahasa yang berusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian kata-kata atau frasa-frasa yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama. Kesejajaran tersebut dapat pula berbentuk anak kalimat yang bergantung pada sebuah induk kalimat yang sama. Contoh : ▪ Sangatlah ironis kedengaran bahwa ia menderita kelaparan dalam sebuah daerah yang subur dan kaya, serta mati terbunuh dalam sebuah negeri yang sudah ratusan tahun hidup dalam ketentraman dan kedamaian. ▪ Bukan saja perbuatan itu harus dikutuk, tetapi juga harus diberantas. ( Tidak baik : Bukan saja perbuatan itu harus dikutuk, tetapi kita juga harus memberantasnya. ) ▪ Baik golongan yang tinggi maupun golongan yang rendah, harus diadili kalau bersalah. ( Tidak baik : Baik golongan yang tinggi maupun mereka yang rendah kedudukannya, harus diadili kalau bersalah. ) Bentuk paralelisme merupakan sebuah bentuk yang baik untuk menonjolkan kata atau kelompok kata ( frase ) yang sama fungsinya. Namun bila terlalu banyak digunakan, maka kalimat-kalimat akan terasa kaku dan mati. 28. Tautologi Yaitu gaya bahasa penegasan dengan mengulang beberapa kali sepatah kata dalam sebuah kalimat. Dapat pula mempergunakan beberapa kata yang bersinonim berturut-turut dalam sebuah kalimat. Dapat pula disebut gaya bahasa sinonimi karena mempergunakan kata-kata yang bersinonim. Contoh : ▪ Sungai itu terlalu amat dalam sekali. ▪ Disuruhnya saya bersabar, bersabar, dan sekali lagi bersabar, tetapi aku tak tahan lagi. ▪ Siapa pun akan tertarik kepada orang yang ramah, baik hati serta berbudi seperti dia. ▪ Ia tiba jam 20.00 malam waktu setempat. ▪ Globe itu bundar bentuknya. 28. Inversi Yaitu gaya perubahan urutan bagian-bagian kalimat. Gaya bahasa inversi digunakan apabila predikat kalimat hendak lebih ditonjolkan atau dipentingkan daripada subyeknya. Sehingga predikat terletak di depan subyeknya. Contoh : ▪ Besar sekali gajinya. ▪ Padamlah lampu itu. ▪ Tak terhitung pengunjung itu. Inversi dapat dibedakan menjadi 3 macam : a. Releverade Inversi ( inversi tekanan ) Inversi jenis ini mementingkan tekanan untuk menegaskan maksud. Predikat kalimat ditaruh di depan agar memperoleh tekanan lebih dari subyeknya. Contoh : ▪ Anak itu nakal ( susunan biasa). ▪ Nakal anak itu ( inversi, susun balik, atau susunan khusus ). ▪ Lantai ini kotor ( susunan biasa ). ▪ Kotor lantai ini ( inversi ). b. Vertel Inversi ( inversi bercerita ) Inversi jenis ini dipakai untuk bercerita, untuk menegaskan peristiwa-peristiwa yang baru lagi penting. Inversi ini dipergunakan juga untuk dramatisasi, banyak ditemukan di dalam sastra lama. Contoh : ▪ Maka dipeliharakannyalah anaknya itu, maka terlalulah amat kasih sayangnya akan anak itu. ▪ Maka dilihatnya Hang Jebat mengusir orang di luar negeri itu. c. Functiloze Inversi ( inversi tak berfungsi ) Inversi jenis ini tidak mempunyai fungsi apa pun. Contoh : ▪ Di kota besar itu dia berusaha mencari pekerjaan. ▪ Di kota besar itu berusaha dia mencari pekerjaan. 29. Elipsis Yaitu sebuah gaya bahasa dengan menghilangkan satu kata atau lebih yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca atau pendengarnya, sehingga struktur gramatikalnya memenuhi pola yang berlaku. Contoh : ▪ Kalau masih belum jelas, akan saya terangkan sekali lagi ! ( yang akan diterangkan tidak disebutkan ). ▪ Pergilah ke rumah nenekmu sekarang juga ! ( yang disuruh pergi tidak disebutkan ). Bila bagian yang dihilangkan itu berada di tengah-tengah kalimat disebut anakoluton, misalnya : ▪ Jika anda gagal melaksanakan tugasmu … tetapi baiklah kita tidak membicarakan hal itu. Bila pemutusan di tengah-tengah kalimat itu dimaksudkan untuk menyatakan secara tak langsung suatu peringatan atau karena suatu emosi yang kuat, maka disebut aposiopesis. 30. Retoris ( Oratoris ) Yaitu semacam pertanyaan yang dipergunakan dalam pidato atau tulisan dengan tujuan untuk mencapai efek yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar, dan sama sekali tidak menghendaki adanya suatu jawaban ( gaya bahasa penegasan ). Gaya bahasa ini mempergunakan kalimat tanya tak bertanya, sering menyatakan kesangsian atau bersifat mengejek. Dalam bahasa pidato bukan dimaksudkan untuk bertanya, melainkan untuk menegaskan. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak perlu dijawab. Gaya ini biasanya dipergunakan sebagai salah satu alat yang efektif oleh para orator. Dalam pertanyaan retoris terdapat asumsi bahwa hanya ada satu jawaban yang mungkin. Contoh : ▪ Mana mungkin orang meninggal bisa hidup kembali ? (menegaskan) ▪ Inikah kerja namanya ? (maksudnya : hasil pekerjaanmu ini sangat tidak memuaskan ; untuk mengejek) ▪ Siapa pula yang mau ditindas terus-menerus ? 31. Koreksio ( correction ) Koreksio atau epanortosis adalah suatu gaya bahasa yang berwujud, mula-mula menegaskan sesuatu / mengemukakan hal yang salah atau kurang baik dengan sengaja atau tidak, tetapi kemudian memperbaikinya. Contoh : ▪ Sudah empat kali saya mengunjungi daerah itu, ah bukan, sudah lima kali. ▪ Gadis itu memakai baju hijau muda, bukan, hijau tua. ▪ Silakan pulang Saudara-saudara, eh maaf, silakan makan ! 32. Asindeton ( asyndeton ) Yaitu penghilangan konjungsi ( kata sambung ) dalam frase atau klausa atau kalimat. Suatu gaya yang berupa acuan, yang bersifat padat dan mampat di mana beberapa kata, frasa, atau klausa yang sederajat, tidak dihubungkan dengan kata sambung. Bentuk-bentuk itu biasanya dipisahkan saja dengan koma, seperti ucapan terkenal dari Julius Caesar : Veni, vidi, vici “ saya datang, saya lihat, saya menang “. Contoh : ▪ Materi pengalaman diaduk-aduk, modus eksistensi dari cogito ergo sum dicoba, medium bahasa dieksploitir, imaji-imaji, metode, prosedur dijungkir balik, masih itu-itu juga. ▪ Laki-laki perempuan, tua muda, besar kecil, pegawai, tukang becak, orang kampung, semuanya datang menyambut kedatangan regu Piala Thomas kita. ▪ Kita berjuang dengan hati panas, kepala dingin. 33. Polisindeton ( polysindeton, syndesis ) Yaitu suatu gaya yang merupakan kebalikan dari asindeton. Beberapa kata, frase, atau klausa yang berurutan dihubungkan satu sama lain dengan kata-kata sambung ( konjungsi ). Contoh : ▪ Setelah pelajaran usai, maka berkemas-kemaslah murid-murid hendak pulang, karena jam pelajaran terakhir telah habis, lalu mereka berdoa dipimpin oleh ketua kelas. 34. Kiasmus ( chiasmus ) Yaitu semacam acuan atau gaya bahasa yang terdiri dari dua bagian, baik frase atau klausa, yang sifatnya berimbang, dan dipertentangkan satu sama lain, tetapi susunan frase atau klausanya itu terbalik bila dibandingkan dengan frase atau klausa lainnya. Contoh : ▪ Semua kesabaran kami sudah hilang, lenyap sudah ketekunan kami untuk melanjutkan usaha itu. ▪ Uang itu sudah kutabung di bank, tak ada lagi uang di rumah. 35. Sinisme Yaitu gaya bahasa sindiran, tetapi lebih kasar dari ironi, berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati. Boleh mempergunakan kata yang mengandung makna sebaliknya seperti ironi, tetapi dalam nada suara orang berkata terdengar nada sindiran yang kasar. Contoh : ▪ Muak aku melihat perangaimu yang tak juga berubah ! ▪ Tidak diragukan lagi bahwa Andalah orangnya, sehingga semua kebijaksanaan akan lenyap bersamamu ! ▪ Memang Anda adalah seorang gadis yang tercantik di seantero jagad ini yang mampu menghancurkan seluruh isi jagad ini. 36. Sarkasme Yaitu gaya bahasa sindiran yang paling kasar ( perkataan yang menyakitkan / suatu acuan yang mengandung kepahitan dan celaan yang getir ). Kata sarkasme diturunkan dari kata Yunanai sarkasmos yang lebih jauh diturunkan dari kata kerja sakasein yang berarti “ merobek-robek daging seperti anjing “, “ menggigit bibir karena marah “, atau “ berbicara dengan kepahitan “. Contoh : ▪ Otakmu otaku dang rupanya ! ▪ Cih, mukamu yang seperti monyet itu, jijik aku melihatnya ! ▪ Lihat sang Raksasa itu ! (maksudnya si Cebol) 37. Oksimoron Oksimoron ( okys = tajam, moros = gila, tolol ) adalah suatu acuan yang berusaha untuk menggabungkan kata-kata untuk mencapai efek yang bertentangan. Atau dapat juga dikatakan, oksimoron adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan dengan mempergunakan kata-kata yang berlawanan dalam frase yang sama, dan sebab itu sifatnya lebih padat dan tajam dari paradoks. Contoh : ▪ Keramah-tamahan yang bengis. ▪ Untuk menjadi manis seseorang harus menjadi kasar. ▪ Itu sudah menjadi rahasia umum. ▪ Keindahan yang memuakkan. ▪ Dengan membisu seribu kata, mereka sebenarnya berteriak-teriak agar diperlakukan dengan adil. 38. Eponim Yaitu nama tempat atau pranata yang dibentuk menurut nama orang. Nama orang itu sering dihubungkan dengan sifat tertentu, sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu. Contoh : ▪ Orang kuat disebut dengan nama ‘Hercules‘. ▪ Helen dari Troya dipakai untuk menyatakan kecantikan. ▪ Simsom dipakai untuk menyatakan orang kuat. 39. Paranomasia ( pun ) Yaitu gaya bahasa yang mempergunakan permainan kata-kata dengan memanfaatkan polisemi atau homonimi. Jadi, gaya bahasa ini didasarkan kemiripan bunyi, tetapi terdapat perbedaan besar dalam maknanya. Contoh : ▪ Tanggal dua gigi saya tanggal dua. (tanggal : a. hari bulan ; b. terlepas) ▪ Anak kecil itu mengukur punggung ayahnya yang sedang mengukur panjang kain. (mengukur : a. menggaruk ; b. menghitung) ▪ Jangan meminta jangan kangkung saja ! (jangan : a. melarang ; b. sayur) ▪ Lirik matanya menyentuh perasaan para penonton. (lirik : a. kerling ; bukan semacam sajak curahan hati) 40. Silepsis Dalam gaya bahasa ini orang menggunakan sebuah kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi lebih dari satu konstruksi sintaksis. Jadi, kata yang dipakai itu secara gramatikal benar, tetapi kata itu diterapkan pada kata yang lain yang sebenarnya mempunyai makna lain. Contoh : ▪ Orang itu telah kehilangan topi dan semangatnya. ▪ Kami sedang mempelajari bagaimana fungsi dan sikap bahasa dalam pemakaiannya. 41. Zeugma Dalam gaya bahasa ini orang menggunakan sebuah kata untuk menerapkan atau menunjukkan dua kata lain sedemikian rupa sehingga memberikan makna yang berbeda kepada tiap-tiap kata itu. Jadi, dalam zeugma kata yang dipergunakan itu tidak cocok untuk kata yang kedua ( baik secara semantis, atau logis, maupun secara gramatikal ). Contoh : ▪ Dengan membelalakkan mata dan telinganya, ia mengusir orang itu. ▪ Ia menundukkan kepala dan badannya untuk memberi hormat kepada tamu yang baru saja datang. 42. Aliterasi Yaitu gaya bahasa yang mempergunakan kata-kata yang dimulai dengan konsonan yang sama. Biasanya terdapat dalam puisi. Contoh : ▪ Takut titik lalu tumpah. 43. Simetri Yaitu semacam gaya bahasa yang mempergunakan kalimat yang diikuti oleh bagian-bagian kalimat yang seimbang bentuk dan isinya. Contoh : ▪ Dilihatnya alamat pada amplop itu dengan saksama, diperhatikannya rumahku dengan senyumnya, dibukanya pintu masuk ke halaman rumahku perlahan-lahan, sebenarnya aku ingin segera menghambur ke luar, tetapi rasa malu menghalangi maksudku. ▪ Di dalam bilik yang sempit, tidak terpelihara itu, berdinding kotor berlantai kotor, dia belajar dengan tekun. Selengkapnya...
Senin, 09 Juli 2012
Khasiat Madu Untuk Pengobatan
1. Luka berat atau infeksi Madu yang dicampur dengan minyak ikan dioleskan pada luka berat atau infeksi. Menurut hasil penelitian, madu dapat meringankan luka dalam waktu 10 hari. Selain itu, diketahui pula bahwa madu dapat memperbesar keluarnya glutathione, sehingga mempercepat sembuhnya luka atau infeksi. 2. Penyakit asam lambung Minum madu secara teratur setelah makan dapat mengurangi kadar zat asam bagi penderita penyakit asam lambung. 3. Penyakit insomnia Madu yang dicampur dengan susu dapat menghilangkan penyakit insomnia atau penyakit sukar tidur. 4. Penyakit jantung Orang yang jantungnya sering berdebar, mudah kaget, merupakan gejala umum penderita penyakit jantung. Bagi penderita penyakit ini, dianjurkan untuk mengkonsumsi buah delima dan madu (takaran sesuai kebutuhan). 5. Penyakit rematik Madu dapat menyembuhkan penyakit rematik dengan cara diminum dan dicampur dengan telur ayam dan jahe. 6. Penyakit sesak nafas Madu dicampur dengan air temulawak, kunyit asam dan telur dapat menyembuhkan penyakit ini. 7. Penyakit campak Madu dicampur dengan telur ayam diminum dan sebagian dioleskan pada bagian yang terkena campak. 8. Panas badan Madu dicampur dengan kuning telur ayam dan jeruk nipis dapat menyembuhkan penyakit panas. 9. Jerawat pada wajah Oleskan madu pada bagian tubuh yang berjerawat. Selengkapnya...
Rabu, 11 Januari 2012
أصل العرب
كتب كثير من علماء الأنساب والتايخ في أصل العرب. وقد كثرت الأقوال وتضاربت الآراء خصوصا بين القديم والحديث. فالاعتماد عند المتقدمين على الكتب المدونة وعند بعض العصريين على الآثار القديمة التي نقب عنها في جوف الأرض وحيث أن أمر التنقيب عقيم في جزيرة العرب وبالأخص لم يجر حتى اليوم في الربع الخالي مع صحراء الأحقاف. فأصبح الاعتماد فيما يتعلق بشؤون العرب حتما على الكتب المدونة لأنه لم يكن أمامنا ما ينفي صحتها غيران كتب التاريخ والأنساب المتعلقة باصل العرب وتقسيمهم تحتوي على أقوال كثيرة.
يتفق الباحثين على ان العرب هم من الأقوام السامية أي أبناء وأحفاد سام بن نوح عليه السلام بن لمك بن متوشلح بن اخنوخ (إدريس) بن يرد بن مهلائيل بن قينان بن يانش بن شيت بن آدم عله السلام. نشات الأقوام السامية وترعرعت في الجزيرة المعروفة بجزيرة العرب. ورد الاسم لأول مرة في التاريخ في نقوش ترجع الى زمن شلما نصر الثالث سنة 856 قبل الميلاد. ثم تردد ذكر العرب في النقوش الاشورية والبابلية. ورد بشكل عروبو, عريبي, عربيان, عربيايا و عرابيا كما ورد في اسفار التوراة وبعض كتب اليونان.
و هم يتكون من تسعة أقوام. الأول، عاد الذين يسكنون في الأحقاف الواقعة بين يمان و أومان يعني في القسم الجنوبي من الجزيرة العرب. و الثاني، ثمود الذين يسكنون في الحجر و وادي القرى الواقعة بين الحجاز و الشام يعنى في القسم الشمالي من الجزيرة العرب. ثم طسم و جديس الذان يسكنان في اليمامة يعني في القسم الشرقي من الجزيرة على الخليج العربي. و الخامس، عمليق الذين يسكنون في عمان الواقعة في القسم الشرقي بجنوب من الجزيرة. و السادس، أميم الذين يسكنون في رمل علج الواقعة بين اليمامة و الشحر. و السابع، عبيل الذين يسكنون في الجحفة قريب من المدينة. و الثامن، عبد ضحيم الذين يسكنون في الطائف. و الأخير، حضروا الذين يسكنون في الرس.
Selengkapnya...
Minggu, 08 Januari 2012
SEJARAH PENDIDIKAN BAHASA ARAB DI INDONESIA
A. Pendidikan Bahasa Arab di Indonesia
Sejauh ini belum ada hasil penelitian yang memastikan sejak kapan studi bahasa Arab di Indonesia mulai dirintis dan dikembangkan. Asumsi yang selama ini berkembang adalah bahwa bahasa Arab sudah mulai dikenal oleh bangsa Indonesia sejak Islam dikenal dan dianut oleh mayoritas bangsa kita. Jika Islam secara meluas telah dianut oleh masyarakat kita pada abad ke-13, maka usia pendidikan bahasa Arab dipastikan sudah lebih dari 7 abad. Karena perjumpaan umat Islam Indonesia dengan bahasa Arab itu paralel dengan perjumpaannya dengan Islam. Dengan demikian, bahasa Arab di Indonesia jauh lebih “tua dan senior” dibandingkan dengan bahasa asing lainnya, seperti: Belanda, Inggris, Portugal, Mandarin, dan Jepang.
Pendidikan bahasa Arab di Indonesia sudah diajarkan mulai dari TK (sebagian) hingga perguruan tinggi. Berbagai potret penyelenggaraan pendidikan bahasa Arab di lembaga-lembaga pendidikan Islam setidaknya menunjukkan adanya upaya serius untuk memajukan sistem dan mutunya.
Secara teoritis, paling tidak ada empat orientasi pendidikan bahasa Arab sebagai berikut: Orientasi Religius, yaitu belajar bahasa Arab untuk tujuan memahami dan memahamkan ajaran Islam (fahm al-maqrû’). Orientasi ini dapat berupa belajar keterampilan pasif (mendengar dan membaca), dan dapat pula mempelajari keterampilan aktif (berbicara dan menulis).
Orientasi Akademik, yaitu belajar bahasa Arab untuk tujuan memahami ilmu-ilmu dan keterampilan berbahasa Arab (istimâ’, kalâm, qirâ’ah, dan kitâbah). Orientasi ini cenderung menempatkan bahasa Arab sebagai disiplin ilmu atau obyek studi yang harus dikuasai secara akademik. Orientasi ini biasanya identik dengan studi bahasa Arab di Jurusan Pendidikan bahasa Arab, Bahasa dan Sastra Arab, atau pada program Pascasarjana dan lembaga ilmiah lainnya.
Orientasi Profesional/Praktis dan Pragmatis, yaitu belajar bahasa Arab untuk kepentingan profesi, praktis atau pragmatis, seperti mampu berkomunikasi lisan (muhâdatsah) dalam bahasa Arab untuk bisa menjadi TKI, diplomat, turis, misi dagang, atau untuk melanjutkan studi di salah satu negara Timur Tengah, dsb.
Orientasi Ideologis dan Ekonomis, yaitu belajar bahasa Arab untuk memahami dan menggunaakan bahasa Arab sebagai media bagi kepentingan orientalisme, kapitalisme, imperialisme, dsb. Orientasi ini, antara lain, terlihat dari dibukanya beberapa lembaga kursus bahasa Arab di negara-negara Barat.
Pendidikan Bahasa Arab (PBA) di Indonesia relatif sudah tersebar di berbagai UIN, IAIN, STAIN, dan sebagian PTAI swasta seperti Universitas Islam Jakarta. Hanya saja, disiplin keilmuan ini masih tergolong “miskin” sumber daya manusia dan sumber-sumber studi (referensi). Sementara ini, yang tergolong memiliki SDM PBA cukup kuat adalah PBA FITK Jakarta (4 profesor, 4 doktor, dan 8 Magister). Menurut pengamatan penulis, yang agak memperihatinkan, terutama bagi PBA di luar UIN Jakarta yang masih miskin SDM, adalah bagaimana lembaga-lembaga itu mampu meningkatkan kualitas SDM dan memperkaya referensi sebagai basis pembelajaran, penelitian dan pengembangan ilmu-ilmu bahasa Arab. Dalam hal ketersediaan sumber belajar (buku, jurnal, koran Arab, media dan sebagainya), PBA UIN Jakarta reletif “tertolong” oleh keberadaan LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) yang berafiliasi pada Universitas al-Imâm Muhammad ibn Sa’ûd di Riyâdh. Lembaga ini tidak hanya mensuplay berbagai sumber belajar yang relatif memadai, melainkan juga membantu PBA memberikan native speaker dan koran-koran berbahasa Arab untuk PBA. Kalau saja LIPIA tidak ada atau jauh dari PBA UIN Jakarta, mungkin nasib PBA tidak jauh berbeda dengan PBA-PBA yang ada di luar Jakarta. Kurikulum PBA pada UIN, IAIN, dan STAIN tampaknya merupakan hasil “ijtihad institusional” masing-masing, bukan merupakan “ijtihad struktural” (baca: Depag RI). Sejauh ini belum pernah ada konsensus atau kesepakatan bersama mengenai pentingnya kerjasama atau networking antarPBA untuk merumuskan epistemologi, arah kebijakan, dan kurikulum PBA secara lebih luas dan komprehensif. Meskipun PBA FITK menjadi semacam “lokomotif atau kiblat” bagi PBA-PBA lainnya –antara lain karena berada di pusat dan menjadi sasaran studi banding bagi PBA-PBA lainnya—namun tuntutan dan kebutuhan untuk memperbaharui kurikulumnya sudah semakin mendesak, karena perkembangan ilmu-ilmu bahasa Arab, sains, teknologi, dan sistem sosial budaya cukup pesat. Dalam masyarakat dewasa ini mulai timbul keluhan atau kritik yang dialamatkan kepada dunia pendidikan tinggi Islam, termasuk PBA, bahwa lulusan PBA kurang memiliki kemandirian dan keterampilan berbahasa yang memadai, sehingga daya saing mereka rendah dibandingkan dengan alumni lembaga lain. Kelemahan daya saing ini perlu dibenahi dengan memberikan aneka “keterampilan plus”, seperti: keterampilan berbahasa Arab dan Inggris aktif (berbicara dan menulis)[3], keterampilan mengoperasikan berbagai aplikasi komputer, keterampilan meneliti, keterampilan manajerial, dan keterampilan sosial. 1. 1. Posisi Pengajaran Bahasa Arab di Indonesia 1. Bahasa Arab Sebagai Bahasa Agama Verbal Sebagai simbol ekspresi linguistik ajaran Islam, pengajaran bahasa Arab yang pertama di Indonesia adalah untuk memenuhi kebutuhan seorang muslim dalam menunaikan ibadah ritual, khususnya ibadah shalat. Sesuai dengan kebutuhan tersebut, materi yang diajarkan hanya terbatas pada doa-doa shalat dan surat-surat pendek al-Qur’an yang lazim dikenal dengan juz ‘amma. Metode yang lazim digunakan ialah metode abjadiyah (alphabetical method) yang terkenal dengan nama metode baghdadiyah. Metode ini menekankan pada kemampuan membaca huruf-huruf al-Qur’an (al-huruf al-hija’iyah) yang dimulai dari: (a) penyebutan huruf dengan namanya satu persatu dari alif samapai ya’ secara abjad sampai murid hafal nama-nama huruf tersebut secara terpisah atau satu persatu, kemudian (b) diajarkan kata-kata yang terdiri dari dua huruf , lalu tiga huruf, dan begitu seterusnya yang diberikan secara bertahap, kemudian meningkat pada (c) pengajaran harakat, dimulai dengan menyebutkan huruf yang disertai dengan nama harakatnya. 1. Bahasa Arab Sebagai Media/alat untuk Memahami Agama Seiring dengan berkembangnya waktu, metode dan pola pengajaran yang pertama di atas mulai mengalami pergeseran dan perkembangan ke arah yang lebih bermakna. Pengajaran bahasa Arab verbalistik sebagai mana di atas tidak cukup, karena al-Qur’an tidak hanya untuk dibaca sebagai sarana ibadah, melainkan juga sebagai pedoman hidup yang harus dipahami maknanya dan diamalkan ajaran-ajarannya. Oleh karena itu, muncullah pengajaran bahasa Arab dalam bentuk kedua dengan tujuan mendalami ajaran agama Islam. Pengajaran bahasa Arab bentuk kedua ini tumbuh dan berkembang di berbagai pondok pesantren salaf. Materi yang diajarkan mencakup fikih, aqidah, akhlaq, hadits, tafsir, dan ilmu-ilmu bahasa rab seperti nahwu, sharaf, dan balaghah dengan buku teks berbahasa Arab yang ditulis oleh para ulama dari berbagai abad di masa lalu. Metode yang digunakan adalah metode gramatika-tarjamah (thariqah al-qawa’id wa al-tarjamah/grammar-translation method) dengan teknik penyajian yang masih relatif tradisional, di mana guru (Kiai) dan para murid (santri) masing-masing memegang buku (kitab). Guru membaca dan mengartikan kata demi kata atau kalimat demi kalimat ke dalam bahasa daerah khas pesantren yang telah didekatkan kepada sensivitas bahasa Arab. Sedangkan tata bahasa (qawa’id) bahasa Arab diselipkan ke dalam kata-kata tertentu sebagai simbol yang menunjukkan fungsi suatu kata dalam kalimat. Santri hanya mencatat arti setiap kata atau kalimat Arab yang diucapkan artinya oleh guru, tanpa adanya interaksi verbal yang aktif dan produktif antara kiai dan santrinya. 1. Bahasa Arab Sebagai Media Komunikasi Meski pola pengajaran bahasa Arab dalam bentuk kedua di atas sangat dominan berlaku di berbagai pondok pesantren salaf hingga kini, dan diakui kontribusinya dalam memberikan pemahaman umat Islam Indonesia terhadap ajaran agamanya, namun tuntutan dunia komunikasi pada gilirannya menggiring perubahan baru pola pengajaran bahasa Arab. Interaksi antar bangsa menuntut umat Islam untuk tidak sekedar memiliki kemampuan berbahasa Arab reseptif (pasif), tetapi kemampuan berbahasa yang lebih aktif dan produktif. Semangat pembaruan ini diperkuat dengan munculnya para cendikiawan dan intelektual muda muslim dengan nuansa pemikiran yang segar, sekembali mereka dari menuntut ilmu di negeri pusat-pusat pendidikan di Timur Tengah, terutama Mesir. Pada masa inilah metode langsung (direct method / al-thariqah al-mubasyirah) mulai diterapkan dalam pengajaran bahasa Arab di Indonesia. Pengajaran bahasa Arab bentuk ketiga ini terdapat di berbagai pondok pesantren atau lembaga pendidikan Islam modern sejak awal abad ke-19. Dimulai di Padang Panjang oleh ustadz Abdullah Ahmad, Madrasah Adabiyah (1909), dua bersaudara Zaenuddin Labay al-Yunusi dan Rahmah Labay el-Yunusiyah, Diniyah Putra (1915) dan Diniyah Putri (1923), dan ustadz Mahmud Yunus, Normal School (1931). Kemudian ditumbuh-kembangkan oleh K.H. Imam Zarkasyi di Kulliyatul Mu’allimin al-Islamiyah Gontor Ponorogo. Dalam sistem pengajaran bentuk ketiga ini, pelajaran agama pada tahun pertama diberikan sebagai dasar saja dengan menggunakan bahasa Indonesia. Sementara itu, sebagaian besar perhatian siswa dicurahkan kepada pelajaran bahasa Arab dengan metode langsung. Pada tahun kedua, ilmu tata bahasa Arab (nahwu-sharaf) mulai diberikan dalam bahasa Arab dengan metode induktif (al-thariqah al-istiqra’iyah), ditambah dengan latihan intensif qira’ah (reading), insya’ (writing), dan muhadatsah (speaking/conversation). Pelajaran agama juga disajikan dalam bahasa Arab. Dalam masa belajar enam tahun (pasca sekolah dasar), seorang lulusan perguruan Islam modern ini (setara dengan lulusan SLTA/SMA) telah mampu berkomunikasi dengan bahasa Arab secara lisan dan tulis, serta mampu membaca buku berbahasa Arab dalam berbagai subyek pengetahuan. Dalam perkembangannya, pengajaran bahasa Arab di perguruan Islam modern ini tidak hanya menggunakan metode langsung tapi mengikuti pembaruan-pembaruan yang terjadi di dunia pengajaran bahasa, misalnya metode aural-oral (al-thariqah al-sam’iyah al-syafawiyah) dan pendekatan komunikatif (al-thariqah al-itthishaliyah).
1. Bentuk Integrasi Selanjutnya, dari obsesi para pemerhati pengajaran bahasa Arab yang ingin mengintegrasikan antara bentuk pengajaran bahasa Arab yang kedua dan ketiga, maka muncullah bentuk pengajaran bahasa Arab keempat yaitu bentuk integrasi. Pada fase ini tujuan pengajaran bahasa Arab memiliki dua arah, yaitu pengajaran bahasa Arab untuk penguasaan kemahiran berbahasa dan pengajaran bahasa Arab untuk penguasaan pengetahuan lain dengan menggunakan wahana bahasa Arab. Selain itu, jenis bahasa yang dipelajari mencakup dua bahasa, yaitu bahasa Arab klasik dan modern. Penggabungan ini di satu sisi memiliki kelebihan karena dapat memberdayakan kompetensi peserta didik secara komprehensif, namun di sisi lain melahirkan ketidakmenentuan, karena keterbatasan sel-sel otak peserta didik untuk mengakomodasi keduanya secara bersamaan. Ketidakmenetuan ini bisa dilihat dari berbagai segi. Pertama dari segi tujuan, terdapat kerancuan antara mempelajari bahasa Arab untuk menguasai kemahiran berbahasa atau sebagai alat untuk menguasai pengetahuan lain yang menggunakan wahana bahasa Arab. Kedua dari segi jenis bahasa yang dipelajari, terdapat ketidakmenentuan apakah bahasa Arab klasik, bahasa Arab modern, atau bahasa Arab sehari-hari. Ketiga dari segi metode, terdapat kegamangan antara mempertahankan metode yang lama atau menggunakan metode yang baru. Meskipun demikian, pengajaran bahasa Arab bentuk keempat ini telah banyak dipergunakan hingga kini di berbagai lembaga pendidikan formal (madrasah dan sekolah umum) di Indonesia. Kebijakan ini diambil karena bentuk integrasi ini dipandang lebih aspiratif dengan perkembangan abad globalisasi, dengan terus mengupayakan berbagai cara untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terdapat di dalamnya. Begitu pula dengan kegamangan yang ada, setidaknya dapat memacu para pemerhati pengajaran bahasa Arab untuk menghadirkan tawaran positif bagi pengembangan metodologi pengajaran bahasa Arab. Akhirnya, bentuk-bentuk pengajaran bahasa Arab yang telah diuraikan di atas masih tetap eksis dan dipergunakan hingga saat ini, tentu dengan modifikasi, inovasi dan perkembangan masing-masing. Jika pengajaran bahasa Arab bentuk pertama dahulu berada di surau dan masjid, kini berkembang menjadi TPQ/TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) yang menjamur bukan hanya di pedesaan tapi juga marak di perkotaan. Metode yang digunakan semakin berkembang menjadi lebih praktis dan bervariasi, tidak hanya metode eja/abjad, tapi juga menggunakan metode iqra’, al-barqi, hattawiyah, al-nur dan sejenisnya. Perkembangan ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran beragama masyarakat dan kesdaran akan perlunya menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada anak-anak sejak usia dini. Sementara itu, pengajaran bahasa Arab bentuk kedua masih tetap dipertahankan di pondok-pondok pesantren salaf. Sedangkan pengajaran bahasa Arab bentuk ketiga yang menekankan bahasa Arab sebagai alat komunikasi banyak dipergunakan di pondok pesantren modern, dan berbagai lembaga pendidikan Islam modern. Adapun pengajaran bahasa Arab bentuk keempat juga masih tetap dipergunakan hingga kini di lemabaga pendidikan formal (madrasah dan sekolah umum) dan terus diupayakan penyempurnaannya, baik dari segi kurikulum, orientasi pengajarannya, materi yang diajarkan, metode dan strategi pengajarannya, serta media yang digunakan.[2] 1.
C. Pendidikan Bahasa Arab di Barat Bahasa Arab dikenal sebagai bahasa yang sulit.
“Bahasa Arab memberikan sejumlah tantangan bagi mereka yang menggunakan bahasa Inggris,” kata Dr. Omran. Tantangan itu misalnya dari cara membacanya dari kanan ke kiri, bunyi hurufnya yang masih terasa asing bagi pemakai bahasa Inggris dan tata bahasanya yang agak pelik. Dr Omran sudah lebih dari 20 tahun mengajar bahasa Arab bagi mahasiswa Amerika. Ia mengatakan, dengan sedikit kerja keras dan komitmen, setiap orang bisa cepat menguasai bahasa Arab dan lancar bicara dengan menggunakan bahasa itu. Namun menurut Dr. Michael Cooperson yang sudah mengajar bahasa Arab di sejumlah universitas bergengsi di AS seperti Harvard dan UCLA, tingkat kesulitan belajar bahasa Arab tergantung pada bahasa yang sering dipakai oleh mahasiswa bersangkutan. “Jika bahasa yang selalu digunakan berdialek sama dengan bahasa Arab, ini menguntungkan. Termasuk jika sebelumnya ada sudah biasa bicara dengan bahasa Hebrew atau bahasa Semit lainnya,” kata Dr Cooperson
Selengkapnya...
FiQih Nikah
Nikah menurut bahasa adalah الضمّ و الجمع yang berarti berkumpul. Sedangkan nikah menurut istilah adalah suatu akad (lahir-batin) antara wanita dan laki-laki yang mengandung hokum dibolehkannya wath’i (hubungan suami-istri) dengan menggunakan lafadz nikah atau tazwij. Syarat-syarat menikah Syarat bagi calon suami: - Muslim - Merdeka - Berakal - Adil - Benar-benar laki-laki - Tidak beristri 4 - Tidak memiliki hubungan mahram - Tidak dalam keadaan ihram / haji Syarat bagi calon istri: - Muslimah - Benar-benar perempuan - Mendapat izin dari wali - Tidak memiliki hubungan mahram - Tidak bersuami - Tidak dalam keadaan iddah - Tidak dalam keadaan ihram / haji Wanita-wanita yang haram dinikahi - Karena sebab perkawinan: menantu, ib tiri, mertua. - Karena sebab persusuan: saudara perempuan yang disusui ibu. - Karena sebab keturunan: ibu, anak kandung. Wali nikah: orang yang berhak menikahkan perempuan dengan laki-laki sesuai dengan syari’at Islam. Maca-macam wali nikah: - Wali mujbir: wali yang memiliki hak untuk menikahkan orang yang diwalikan tanpa meminta izin dan menanyakan terlebih dahulu pendapat mereka. - Wali hakim: kewalian pindah ke tangan hakim disebabkan 2 hal, yaitu adanya pertentangan dan tidak adanya wali nashab. - Wali adal: wali yang enggan / menolak untuk menikahkan perempuan yang ada di bawah kewaliannya. Urutan-urutan orang yang berhak menjadi wali nikah: - Ayah kandung - Kakek dari pihak ayah - Saudara laki-laki kandung - Saudara laki-laki seayah - Anak laki-laki saudara laki-laki kandung - Paman (saudara ayah kandung) - Anak laki-laki opaman - Wali hakim Lafadz ijab: (يا فلان) أنكحتك و زوجتك (فلانة) بنت (فلان) بمهر (.....) حالا Lafadz qobul: قبلت نكاحها وتزويجها بالمهر المذكور Pernikahan yang dilarang: - Nikah muth’ah: nikah dengan menyebut batas waktu tertentu ketika menikah - Nikah syighar: pernikahan 2 jodoh (empat orang) dengan menjadikan kedua perempuan tu sebagai mahar masing-masing. - Nikah tahlil: nikah yang dilakukan seseorang dengan tujuan untuk menghalalkan perempuan yang dinikahinya dinikahi lagi oleh bekas suaminya. - Nikah silang: nikah yang dilakukan oleh orang yang berbeda agama. - Nikah khadan: nikah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi yang mana laki-laki menjadikan perempuan sebagai istri simpanannya tanpa melalui pernikahan yang syah menurut syara’. Hikmah pernikahan: - Terpeliharanya ketenangan hidup - Terpeliharanya diri dari perbuatan zina - Memperkuat persatuan dan kesatuan - Melestarikan keturunan secara halal dan jelas Selengkapnya...
Ayat-Ayat Alquran Yang Menjelaskan Tentang Bahasa Arab
1. Qs. An-Nahl: 103
“Dan sesungguhnya kami mengetahui bahwa mereka berkata: "Sesungguhnya al Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)". Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) muhammad belajar kepadanya bahasa 'ajam[840], sedang al quran adalah dalam bahasa arab yang terang.”
2. Qs. Asy-Syu’ara’: 192-195
“dan Sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril). Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.”
3. Qs. Az-Zuhruf: 3
“Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).”
4. Qs. Al-Fushilat: 3
“Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, Yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui.”
5. Qs. Az-Zumar: 28
“(ialah) Al Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.”
6. Qs. Al-Hijr:9
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”
Selengkapnya...
Kamis, 29 Desember 2011
الألف اللينة في آخرالحروف والأسماء والأفعال
الألف اللينة هي الألف التي تكتب في آخر الكلمة بدون همزة وتكتب إما ممدودة ( ا ) أو مقصورة على صور ة ياء ( ى ) غير منقوطة . أولا : الألف في آخر الحروف تكتب ألفًا قائمة في جميع حروف المعاني مثل : ( لا ، حاشا ) ما عدا أربعة حروف خالفت القاعدة وهي (حتى ، على ، بلى ، إلى ) حيث ترسم الألف فيها على صورة الياء . ثانيا : الألف في آخر الأسماء ترسم مقصورة (ى): 1ـ في الاسم الثلاثي المنقلبة ألفه عن ياء مثل : فتى ، هدى . 2ـ في الاسم الأكثر من ثلاثة أحرف إذا لم تسبق ألفه بياء مثل : مأوى ، مصطفى،مستشفى. تكتب قائمة ممدودة ( ا ) 1ـ في الاسم الثلاثي المنقلبة ألفه عن واو مثل : عصا .مها. 2ـ في الاسم الرباعي فأكثر إذا سُبقت ألفه بياء مثل : هدايا ،مرايا، رعايا ما عدا ( يحيى ) لتمييزه عن الفعل المضارع ( يحيا ) 3- في الأسماء الأعجمية مثل : أوربا ، آسيا ،موسيقا، زليخا ما عدا :( عيسى ، موسى ، بخارى ، كسرى) 4- في الأسماء المبنية مثل : هنا ، هذا ، أنا ، إذا ، ما عدا : لدى ، أنّى ، متى ، أولى ، الأُلى . معرفة أصل الألف في الأسماء تكون بأحد ثلاثة أمور : 1ـ بالنظر إلى المفرد : خُطا : خُطوة . قرى :قرية. 2ـ بالتثنية : عصا : عصوان - فتى : فتيان . مها:مهوان 3ـ بالجمع : عصا : عصوات ، فتى : فتية . ثالثا : الألف في آخر الأفعال : تكتب على صورة الياء ( ى ) 1ـ في الفعل الماضي الثلاثي المنقلبة ألفه عن ياء مثل : رعى ، رمى،سعى. 2ـ في الفعل الماضي أو المضارع الزائد على ثلاثة أحرف ، ولم يسبق الألف ياء مثل : استدعى ، يتخطى ،استرعى،استهوى. تكتب ممدودة ( ا ) 1ـ في الفعل الماضي المنقلبة ألفه عن واو مثل : سما ، غزا , دعا. 2ـ في الفعل الماضي أو المضارع الزائد عن ثلاثة أحرف إذا سبقت ألفه بياء مثل : أحيا ، يعيا . معرفة أصل الألف في الأفعال تكون بأحد أمرين : 1ـ بإضافة تاء الفاعل للفعل الماضي مثل : سما - سموت ، رمى – رميت، دعا :دعوت. 2ـ بالرجوع للمصدر مثل : السمو ، الرمي . Selengkapnya...
Rabu, 28 Desember 2011
Interlanguage (Bahasa Antara)
"Bahasa antara" (interlanguage) ialah bahasa seseorang yang sedang mempelajari bahasa lain; "bahasa antara" berbeda dari bahasa ibu dan dari bahasa yang sedang atau telah dipelajari. Dengan kata lain, bahasa antara (selanjutnya ditulis BA) atau "interlanguage" ialah bahasa yang kedudukannya berada di antara bahasa ibu dan bahasa sasaran yang sedang dipelajari (Namser, 1971a; Selinker, 1972). Oleh karena itu, BA mempunyai tata bahasa dan ciri-cirinya sendiri (Corder, 1971a; Adjemian, 1976). Dengan demikian, BA dianggap sebagai suatu bahasa yang juga mempunyai sistem sendiri sebagaimana bahasa alami (natural language) lainnya.
Dalam pemerolehan bahasa kedua (second language Acquisition) terdapat antarbahasa (interlanguage) yang bukan bahasa sumber (native language) dan bukan bahasa sasaran (target language). Berikut akan dibahas lebih rinci tentang cabang liguistik yang lain yaitu Kajian Bahasa Antara (Interlanguage Study). Menilik asal kata interlanguage, berasal dari kata “inter” dan “language.
Interlanguage adalah bahasa yang mengacu kepada sistem bahasa di luar sistem B1 dan kedudukannya berada di antara B1 dan B2 (Selinker, 1972). Istilah lain adalah approximative system dan idiosyncratic dialect. Kajian studinya menghasilkan analisis kegalatan (error analysis) dan membedakannya dengan mistake.
Kajian bahasa antara membahas fenomena kebahasaan yang muncul (emergence) akibat interaksi antarbahasa, bukan pada hasil akhir proses interaksi tersebut (catatan: berupa kemampuan berbahasa kedua atau asing dan terjemahan). Analisis kontrastif merupakan bagian dari kajian bahasa antara. Lingkup kajiannya membahas proses yang terjadi dari persinggungan dua atau lebih bahasa, daripada fenomena yang ditimbulkan dari persinggungan itu sendiri. Oleh karena itu, kontrastif analisis lebih bersifat diakronik daripada sinkronik. Hal ini disebabkan karena fokus pembahasan tentang proses tersebut membutuhkan waktu untuk mencari asal mula ataupun aspek historis penyebab proses tersebut. Bagaimanapun, kajian Bahasa Antara sebagai analisis bersifat diakronik dalam sebuah pengertian yang sedikit berbeda daripada yang disinggung oleh Saussure. Saussure menyuguhkan tentang pengertian evolusi bahasa yang terkait dengan sejarah atau filogeni yang menyinggung perubahan pada generasi-generasi dan secara berabad-abad..
Beberapa contoh akan memperjelas pernyataan tersebut. Pertama, ada penelitian tentang pemerolehan bahasa pada bayi, yang baru-baru ini dilontarkan Brown ( 1973). Slobin (1971) memberi nama sebuah antologi penelitian tersebut dengan nama The Ontogenesis of Grammar. Sejak anak membuat kemajuan dari sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang bahasa lisan sampai pada tahap penguasaan yang memadai pada usia lima tahun, dan sejak hanya satu bahasa yang dikuasai, pada hakikatnya kajian tentang bahasa anak tidak lagi dibicarakan sebagai sebuah bentuk kajian Bahasa Antara. Tetapi kajian tentang bahasa kedua atau pemelajaran bahasa asing terkait dengan proses seseorang dari ekabahasawan (monolingual) menjadi dwibahasawan (bilingual). Dalam hal ini ada 2 (dua) bahasa yang dilibatkan dalam proses pemelajaran yaitu L1 dan L2.
Oleh karena itu, James menyebutkan ada tiga cabang kajian dalam linguistik interlingual (yang melibatkan dua bahasa), yaitu (1) teori penerjemahan yang terkait dengan proses mengubah teks dari bahasa sumber ke dalam bahasa target; (2) analisis kesalahan; (3) analisis konstrastif. Analisis kesalahan dan analisis kontrastif dipakai dalam ruang lingkup proses monolingual menjadi bilingual.
Tahapan Perkembangan Bahasa-antara
Secara ringkas teori tahapan perkemba-ngan bahasa antara menurut Corder (1973) dapat dirangkum sebagai berikut:
a. Tahapan Kegalatan Acak
Pertama Si-Belajar berkata *Mary cans dance" sebentar kemudian diganti menjadi "Mary can dance".
b. Tahapan kebangkitan
Pada tahapan ini Si-Belajar mulai menginternalisasi beberapa kaidah bahasa kedua tetapi ia belum mampu membetulkan kesalahan yang dibuat penutur lain.
c. Tahapan Sistematik
Si-Belajar sudah mampu menggunakan B2 secara konsisten walaupun kaidah B2 belum sepenuhnya dikuasainya.
d. Tahapan Stabilisasi
Si-Belajar relatif menguasai sistem B2 dan dapat menghasilkan bahasa tanpa banyak kesalahan atau pada tingkat post systematic menurut Corder.
Selengkapnya...
Selasa, 27 Desember 2011
الخطوات العلمية لتحليل النص
الهدف من هذا العمل هي: اكتسب الطلبة على القراءة و الفهم الصحيح من النصوص العربية العادية كانت أو العالمية أو الأدبية أو الصحافية والقيام يتحليلها نحويا. وهذه الخطوات العلمية لتحليل النص:
1- ترجم إلى اللغة العربية
2- الكشف عن مبحث النص
3- استخراج بنية النص
4- الكشف عن أطروحة النص
5- تحديد البنية الحجاجية
6- مناقشة النص
7- التساؤل أن قيمة الأطروحة
8- النقد الداخلي
9- النقد الخاريجي
Selengkapnya...
Senin, 20 Juni 2011
definisi kurikulum
Untuk mendapatkan rumusan tentang pengertian kurikulum, para ahli mengemukakan pandangan yang beragam. Dalam pandangan klasik, lebih menekankan kurikulum dipandang sebagai rencana pelajaran di suatu sekolah. Pelajaran-pelajaran dan materi apa yang harus ditempuh di sekolah, itulah kurikulum. George A. Beauchamp (1986) mengemukakan bahwa : “ A Curriculun is a written document which may contain many ingredients, but basically it is a plan for the education of pupils during their enrollment in given school”. Dalam pandangan modern, pengertian kurikulum lebih dianggap sebagai suatu pengalaman atau sesuatu yang nyata terjadi dalam proses pendidikan, seperti dikemukakan oleh Caswel dan Campbell (1935) yang mengatakan bahwa kurikulum … to be composed of all the experiences children have under the guidance of teachers. Dipertegas lagi oleh pemikiran Ronald C. Doll (1974) yang mengatakan bahwa : “ …the curriculum has changed from content of courses study and list of subject and courses to all experiences which are offered to learners under the auspices or direction of school.
Untuk mengakomodasi perbedaan pandangan tersebut, Hamid Hasan (1988) mengemukakan bahwa konsep kurikulum dapat ditinjau dalam empat dimensi, yaitu:
1.kurikulum sebagai suatu ide; yang dihasilkan melalui teori-teori dan penelitian, khususnya dalam bidang kurikulum dan pendidikan.
2.kurikulum sebagai suatu rencana tertulis, sebagai perwujudan dari kurikulum sebagai suatu ide; yang didalamnya memuat tentang tujuan, bahan, kegiatan, alat-alat, dan waktu.
3.kurikulum sebagai suatu kegiatan, yang merupakan pelaksanaan dari kurikulum sebagai suatu rencana tertulis; dalam bentuk praktek pembelajaran.
4.kurikulum sebagai suatu hasil yang merupakan konsekwensi dari kurikulum sebagai suatu kegiatan, dalam bentuk ketercapaian tujuan kurikulum yakni tercapainya perubahan perilaku atau kemampuan tertentu dari para peserta didik.
Sementara itu, Purwadi (2003) memilah pengertian kurikulum menjadi enam bagian : (1) kurikulum sebagai ide; (2) kurikulum formal berupa dokumen yang dijadikan sebagai pedoman dan panduan dalam melaksanakan kurikulum; (3) kurikulum menurut persepsi pengajar; (4) kurikulum operasional yang dilaksanakan atau dioprasional kan oleh pengajar di kelas; (5) kurikulum experience yakni kurikulum yang dialami oleh peserta didik; dan (6) kurikulum yang diperoleh dari penerapan kurikulum.
Dalam perspektif kebijakan pendidikab nasional sebagaimana dapat dilihat dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa: “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”.
Selengkapnya...
Rabu, 25 Mei 2011
شعر أبي نواس
إلهي لست للفردوس أهلا # ولا أقوى على النار الجحيم
فهب لي توبة واغفر ذنوبي # فإنك غافر الذنب العظيم
ذنوبي مثل أعداد الرمال # فهب لي توبة يا ذالجلال
وعمري ناقص في كل يوم # وذنبي زائد كيف احتمالي
إلهي عبدك العاصى أتاك # مقرّا بالذنوب وقد دعاك
فإن تغفر فأنت لذاك أهل # فإن تطرد فمن نرجو سواك
Wahai Tuhanku, aku bukanlah ahli surga
Tapi aku tidak kuat di dalam neraka
Maka berilah aku kesempatan bertaubat dan ampunilah dosaku
Sesrngguhnya Engkau Maha Mengampuni dosa besar
Dosaku bagaikan bilangan pasir
Maka berilah aku kesempatan bertaubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan
Umurku terus berkurang setiap hari
Sedangkan dosaku terus bertambah, bagaimana aku harus memikulnya
Tuhan-ku, hamba-Mu yang berbuat dosa telah dating kepada-Mu
Dengan mengakui segala dosa dan memohon kepada-Mu
Jika Engkau mengampuni, maka Engkaulah yang Maha Mengampuni
Dan jika Engkau menolak, maka kepada siapa kami mengharap selain kepada-Mu
Selengkapnya...
المحفوظات
oleh New ElGharybah pada 24 Mei 2011 jam 10:59
1- من جدّ وجد
Siapa bersungguh-sungguh akan berhasil
2- من صبر ظفِر
Siapa bersabar, akan beruntung
3- جالسْ أهل الصدق والوفاء
Temanilah orang-orang yang jujur dan menepati janji
4- وما اللّذّة إلا بعد التّعب
Tidak ada kesenangan kecuali setelah bersusah-susah dahulu
5- الصبر يعين على كل عمل
Kesabaran menolong semua pekerjaan
6- جرّبْ ولا حظ تكنْ عارفا
Coba dan perhatikan, niscaya kamu mengetahui
7- أطلب العلم من المهد إلى اللحد
Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai ke liang lahat
8- بيضة اليوم خير من دجاجة الغد
Telur hari ini lebih baik dari telur besok
9- الوقت أثمن من الذّهب
Waktu lebih berharga daripada emas
10- العقل السّليم في الجسم السّليم
Akal yang sehat terdapat pada jiwa yang sehat
11- خير جليس في الزّمان كتاب
Sebaik-baik teman adalah buku
12- منْ يزرع يحصد
Siapa menanam, dia akan menuai hasilnya
13- خير الأصحاب من يدلك على الخير
Sebaik-baik teman adalah yang menunjukkanmu kepada kebaikan
14- لولا العلم لكان النّاس كالبهائم
Seandainya tanpa ilmu, miscaya manusia sama dengan binatang
15- مودة الصديق تظهر وقت الضيق
Kecintaan teman terlihat pada saat kesusahan
16- العلم في الصغير كالنّقش على الحجر
Ilmu di waktu kecil bagaikan ukiran di atas batu
17- تعلّمنْ صغيرا واعمل به كبيرا
Belajarlah di waktu kecil dan amalkanlah di waktu dewasa
18- العلم بلا عمل كالشّجر بلا ثمر
Ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon yang tak berbuah
19- لن ترجع الأيّام التي مضتْ
Hari-hari yang telah lewat tidak akan kembali
20- الاتّحاد أساس النجاح
Persatuan pangkal keberhasilan
21- لا تحتقر من دونك فلكلّ شيئ مزيّة
Jangan menghina orang yang lebih rendah darimu, karena setiap sesuatu memiliki kelebihan
22- لا تحتقر مسكينا وكنْ له معينا
Jangan menghina orang miskin, tetapi jadilah penolong baginya
23- الشّرف بالأدب لا بالنّسب
Kemuliaan itu karena budipekerti bukan karena keturunan
24- سلامة الإنسان في حفظ اللّسان
Keselamatan seseorang adalah dengan menjaga ucapannya
25- آدب المرء خير من ذهبه
Budi pekerti seseorang itu lebih berharga daripada emasnya
26- سوء الخلق يعدى
Kerusakan budi pekerti itu menular
27- آفة العلم النّسيان
Bencana ilmu adalah lupa
28- إذا صدق العزم وضح السبيل
Jika benar kemauan, mudahlah jalan baginya
29- اصلح نفسك يصلح لك النّاس
Perbaikilah dirimu, niscaya orang lain akan berbuat baik padamu
30- فكّر قبل أن تعزم
Berfikirlah sebelum berkemauan
31- من عرف بعد السّفر استعدّ
Siapa mengetahui jauhnya perjalanan, bersiap-siaplah ia
32- من حفر حفرة وقع فيها
Siapa menggali lubang, terperosoklah ia di dalamnya
33- عدو عاقل خير من صديق جاهل
Musuh yang pintar lebih baik dari teman yang bodoh
34- من كثُر احسانه كثر إخوانه
Siapa banyak berbuat kebaikan, banyaklah temannya
35- اجهد ولا تكسل ولا تكن غافلا فندامة العقبى لمن يتكاسل
Bersungguh-sungguhlah dan jangan malas, dan jangan pula lengah karena penyesalan itu akan menghampiri orang yang bermalas-malasan
36- لا تؤخّر عملك إلى الغد ما تقْدِرُ أن تعمله اليوم
Jangan menunda pekerjaan yang bias kamu lakukan sekarang
37- اترك الشّرّ يتركْك
Tinggalkanlah keburukan, dia akan meninggalkanmu juga
38- خير النّاس أحسنهم خلقا وأنفعهم للنّاس
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain
39- في التّأنّي السّلامة وفي العجلة النّدامة
Di dalam kehati-hatian ada keselamatan, sedangkan dalam ketergesah-gesahan terdapat penyesalan
40- ثمرة التّفريط الندامة وثمرة العزم السّلامة
Buah kelengahan adalah penyesalan sedangkan buah dari kecermatan adalah keselamatan
41- من قلّ صدقه قلّ صديقه
Siapa sedikit kejujurannya, sedikit pula temannya
42- قل الحقّ ولو كان مرّا
Katakanlah yang benar meskipun itu menyakitkan
43- الرفق بالضّعيف من الخلق الشّريف
Berlemah lembutlah kepada orang yang lemah karena itu adalah perbuatan yang mulia
44- جزاء سيّئةٍ سيئةٌ مثلها
Balasan kejahatan dalah kejahatan juga
45- ترك الجواب على الجاهل جواب
Meninggalkan jawaban orang yang bodoh adalah jawaban baginya
46- خير الأمور أوسطها
Sebaik-baik perkara adalah yang pertengahannya
47- خير مالك مانفعك
Sebaik-baik hartamu adalah yang bermanfaat bagimu
48- ليس العيب لمن كان فقيرا بل العيب لمن كان بخيلا
Bukanlah sebuah cela bagi orang yang fakir, tapi cela itu bagi orang yang pelit
49- من طلب أخا بلا عيبٍ بقى بلا أخ
Siapa yang mencari teman tanpa cela (kekurangan), maka ia tetap tidak memiliki teman
50- من عذُب لسانه كثر إخوانه
Siapa baik tutur katanya, banyaklah temannya
51- لكل عمل ثواب و لكلّ كلام جواب
Setiap perbuatan ada balasannya, dan setiap perkataan itu ada jawabannya
52- ليس اليتيم الذي قد مات والده بل اليتيم يتيم العلم والأدب
Tidak dikatakan yatim orang yang ditinggal mati orang tuannya, tapi yatim itu adalah yatim ilmu dan budi pekerti
53- ليس الجمال بأثواب تزيّننا فإن الجمال جمال العلم والأدب
Kecantikan seseorang tidak dilihat dari pakaiannya, tetapi dari ilmu dan budi pekertinya
54- إذا تمّ العقل قلّ الكلام
Jika sempurna akalnya, sedikitlah ucapannya
55- هلك امْرء لم يعرف قدره
Binasalah orang yang tidak mengetahui dirinya sendiri
56- لا تكن رطْبا فتُعْصر ولا يابسا فتكسّر
Jangan menjadi orang yang lemah sehingga kamu diremehkan orang lain, dan janganlah kamu jadi orang yang kasar sehingga kamu dipatahkan atau dibenci orang lain
57- أطلب العلم ولو بالصّين
Tuntutlah ilmu walaupun ke negeri Cina
58- من تأنّى نال ما تمنّى
Siapa berhati-hati, berhasillah ia mencapai keinginannaya
59- من ظلم ظُلم
Siapa menzdolimi, akan didzolimi
60- رأس الذّنوب كذب
Pokok segala dosa adalah dusta
61- النّظافة من الإيمان
Kebersihan sebagi Jika an dari iman
62- إذا كبر المطلوب قلّ المساعد
Jika besar permintaan, maka sedikitlah yang menolong
63- انظر ما قال و لا تنظر من قال
Lihatlah apa yang diucapkan, jangan melihat siapa yang mengucapkannya
64- عثرة القدم أسلم من عثرة اللّسان
Tergelincirnya kaki lebih selamat dari tergelincirnya lisan
65- دواء الغضب بالصّمت
Obat kemarahan adalah diam
66- سيرة المرء تُنْبئ عن سريرته
Gerak-gerik seseorang menunjukkan rahasianya
67- خير الكلام ما قلّ ودلّ
Sebaik-baik ucapan adalah sedikit namun jelas
68- كلّ شيئ إذا كثر رخص إلا الأدب
Semua menjadi murah jika banyak, kecuali budi pekerti
69- لا خير في لذّة تعقب ندما
Tidak ada kebaikan dalam suatu kesenangan jika diiringi penyesalan
70- الكلام ينفذ ما لا ينفذ الإبر
Perkataan dapat menembus apa yang tidak dapat ditembus jarum
71- أوّل الغضب جنون وآخره ندم
Awal kemarahan adalah kegilaan dan akhirnya adalah penyesalan
72- قيمة المرء بقدر ما يحسنه
Nilai seseorang itu adalah sebesar perbuatannya
73- الحسود لا يسود
Orang pendengki tidak akan mulia
74- العمل يجعل الصعب سهلا
Bekerja membuat sesuatu yang sulit menjadi mudah
75- لن تنال العلم إلا بستة: ذكاء و حرص و اجتهاد و درهم و صحبة أستاذ و طول زمان
Kamu tidak akan mendapat ilmu kecuali dengan enam perkara: kecerdasan, ketamakan, kesungguhan, harta, bergaul dengan guru, dan waktu yang panjang.
Selengkapnya...
Selasa, 24 Mei 2011
Pembelajaran Mufradat
oleh New ElGharybah pada 24 Mei 2011 jam 16:20
A. Definisi Kosakata (Mufradât)
Kosakata atau mufradât (bahasa Arab) atau vocabulary (bahasa Inggris) adalah himpunan kata atau khazanah kata yang diketahui oleh seseorang atau entitas lain, atau merupakan bagian dari suatu bahasa tertentu.
Kosakata seseorang didefinisikan sebagai himpunan semua kata-kata yang dimengerti oleh orang tersebut dan kemungkinan akan digunakannya untuk menyusun kalimat baru. Kekayaan kosakata seseorang secara umum dianggap merupakan gambaran dari intelejensia atau tingkat pendidikannya.
Menurut Horn, kosakata adalah sekumpulan kata yang membentuk sebuah bahasa. Peran kosakata dalam menguasai empat kemahiran berbahasa sangat diperlukan sebagaimana yang dinyatakan Vallet yaitu bahwa kemampuan untuk memahami empat kemahiran berbahasa tersebut sangat bergantung pada penguasaan kosakata seseorang. Meskipun demikian pembelajaran bahasa tidak identik dengan hanya mempelajari kosakata. Dalam arti untuk memiliki kemahiran berbahasa tidak cukup hanya dengan menghafal sekian banyak kosakata.
Kosakata juga merupakan kumpulan kata-kata tertentu yang akan membentuk bahasa. Kata adalah bagian terkecil dari bahasa yang sifatnya bebas. Pengertian ini membedakan antara kata dengan morfem. Morfem adalah satuan bahasa terkecil yang tidak bisa dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil yang maknanya relative stabil. Maka, kata terdiri dari morfem-morfem, misalnya kata mu’allim (معلم ) dalam bahasa Arab terdiri dari satu morfem. Sedangkan kata al-mu’allim (المعلم ) mempunyai dua morfem yaitu ال dan معلم . Adapun kata yang mempunyai tiga morfem adalah kata yang terbentuk dari morfem-morfem yang mana masing-masing morfem mempunyai arti khusus. Misalnya kata al-mu’allimun ( المعلمون ) yang terdiri dari tiga morfem yaitu ال , معلم dan ون.
Terdapat beberapa masalah dalam pembelajaran kosakata dalam pembelajaran bahasa Arab yang disebut problematika kosakata (مشكلات صرفية). Hal ini terjadi karena dalam pembelajaran kosakata mencakup didalamnya tema-tema yang kompleks yaitu perubahan derivasi, perubahan infleksi, kata kerja, mufrad, tatsniyah, jama’, ta’nîts, tadzkîr dan makna leksikal dan fungsional. Tetapi dalam makalah ini, penulis tidak menjelaskan satu persatu dari tema-tema tersebut secara detail, hanya sekedar mengemukakan hal-hal yang berhubungan dengan teknik pembelajaran bahasa Arab.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kosakata (mufradât) merupakan kumpulan kata-kata yang membentuk bahasa yang diketahui seseorang dan kumpulan kata tersebut akan ia digunakan dalam menyusun kalimat atau berkomunikasi dengan masyarakat. Komunikasi seseorang yang dibangun dengan penggunaan kosakata yang tepat dan memadai menunjukkan gambaran intelejensia dan tingkat pendidikan si pemakai bahasa.
B. Jenis-Jenis Kosakata(al-Mufradât)
Rusydy Ahmad Tha’imah memberikan klasifikasi kosakata (al-mufradât) menjadi empat yang masing-masing terbagi lagi sesuai dengan tugas dan fungsinya, yaitu sebagai berikut:
1. Pembagian kosakata menurut konteks kemahiran kebahasaan
a. Kosakata untuk memahami (understanding vocabulary) baik bahasa lisan (الاستـماع ) maupun teks القراءة )
b. Kosakata untuk berbicara (speaking vocabulary). Dalam pembicaraan perlu penggunaan kosakata yang tepat, baik pembicaraan informal (عادية) maupun formal (موقفية).
c. Kosakata untuk menulis (writing vocabulary). Penulisan pun membutuhkan pemilihan kosakata yang baik dan tepat agar tidak disalahartikan oleh pembacanya. Penulisan ini mencakup penulisan informal seperti catatan harian, agenda harian dan lain-lain dan juga formal, misalnya penulisan buku, majalah, surat kabar dan seterusnya.
d. Kosakata potensial. Kosakata jenis ini terdiri dari kosakata context yang dapat diinterpretasikan sesuai dengan konteks pembahasan, dan kosakata analysis yakni kosakata yang dapat dianalisa berdasarkan karakteristik derivasi kata unuk selanjutnya dipersempit atau diperluas maknanya.
2. Pembagian kosakata menurut maknanya
a. Kata-kata inti (content vocabulary). Kosakata ini adalah kosakata dasar yang membentuk sebuah tulisan menjadi valid, misalnya kata benda, kata kerja, dll.
b. Kata-kata fungsi (function words). Kata-kata ini yang mengikat dan menyatukan kosakata dan kalimat sehingga menbentuk paparan yang baik dalam sebuh tulisan. Contohnya hurûf jâr, adawât al-istifhâm, dan seterusnya.
c. Kata-kata gabungan (cluster words). Kosakata ini adalah kosakata yang tidak dapat berdiri sendiri, tetapi selalu dipadukan dengan kata-kata lain sehingga membentuk arti yang berbeda-beda. Misalnya kata رغب dapat berarti menyukai bila kata tersebut dipadukan dengan في menjadi رغب في . Sedangkan bila diikuti dengan kata عن menjadi رغب عن artinya pun berubah menjadi benci atau tidak suka.
3. Pembagian kosakata menurut karakteristik kata (takhassus)
a. Kata-kata tugas (service words) yaitu kata-kata yang digunakan untuk menunjukan tugas, baik dalam lapangan kehidupan secara informal maupun formal dan sifatnya resmi.
b. Kata-kata inti khusus (special content words). Kosa kata ini adalah kumpulan kata yang dapat mengalihkan arti kepada yang spesifik dan digunakan di berbagai bidang ulasan tertentu, yang biasa juga disebut local words atau utility words.
4. Pembagian kosakata menurut penggunaannya
a. Kosakata aktif (active words), yakni kosakata yang umumnya banyak digunakan dalam berbagai wacana, baik pembicaraan, tulisan atau bahkan banyak didengar dan diketahui lewat berbagai bacaan.
b. Kosakata pasif (passive words), yaitu kosakata yang hanya menjadi perbendaharaan kata seseorang namun jarang ia gunakan. Kosakata ini diketahui lewat buku-buku cetak yang biasa menjadi rujukan dalam penulisan makalah atau karya ilmiah.
C. Bentuk-Bentuk (Shighah) Kosakata (al-Mufradât) Bahasa Arab
Secara umum bentuk kosakata dalam bahasa Arab dibagi menjadi dua, pertama kosakata yang dapat mengalami perubahan (musytaq) yakni kata yang diambil dari kata yang lain antara keduanya terdapat hubungan makna meskipun lafalnya berubah seperti kata مرسم , مكتوب , حاكم yang berasal dari رسم, كتب, حكم dan sebagainya. Kedua, kosakata yang tidak berubah (jâmid) yakni kosakata yang sejak semula sudah mempunyai bentuk dan tidak diambil dari kata lain, misalnya kata شمش , جاموس , شجر dan sejenisnya. Kata-kata yang mengalami perubahan bentuk (musytaq) tidak hanya berubah bentuk saja tetapi berubah makna dan pengertian, misalnya kata فاتح dan مفتوح, kata pertama berarti pembuka atau penakluk sedangkan kata kedua berarti terbuka atau tertaklukkan. Cara membentuk kedua kata (isim fâ’il dan isim maf’ûl) tersebut yang mana tergolong dalam kata kerja tsulâtsi mujarrad adalah dengan mengikuti wazan فاعل – مفعول .
Kata yang berasal dari kata kerja lebih dari tiga huruf (tsulâtsi mazîd) bentuk isim fâ’il dan isim maf’ûlnya hanya dibedakan dengan huruf harakat kasrah pada huruf sebelum akhir untuk bentuk isim fâ’il dan harakat fathah untuk isim maf’ûl, seperti kata مطالبjika dibaca muthâlib berarti bentuk isim fâ’il yang artinya penuntut. Tetapi bila dibaca muthâlab, berarti pembaca menginginkan bentuk maf ‘ûl yang artinya yang dituntut. Metode atau cara pembentukannya melalui bentuk mudlâri’ dengan merubah huruf yang paling depan (harf al-mudlâra’ah) menjadi huruf mim (م). Untuk menentukan apakah bacaan yang tepat dalam suatu teks itu bentuk pertama atau kedua, maka konteks kalimatnya yang menjadi pertimbangan. Contoh :
a. نحن مطالَبون أن ندرس بجد
b. نحن مطالِبون أن يدرسنا الأسـتاذ بجد
Dari konteks kedua kalimat tersebut dapat ditentukan bahwa kata yang digarisbawahi pada kalimat pertama adalah bentuk isim maf ‘ûl yang artinya dituntut, jadi harus dibaca muthâlabûn karena arti kalimat adalah kita dituntut untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Adapun kata yang bergaris bawah pada kalimat kedua adalah bentuk isim fâ’il artinya menuntut, olehnya itu dibaca muthâlibûn karena arti kalimat yang tepat adalah kita menuntut agar dosen mengajar kita dengan sungguh-sungguh.
D. Dasar-Dasar Pemilihan Kosakata (al-Mufradât)
Menurut Ahmad Djanan Asifuddin, pembelajaran kosakata (al-mufradât) yaitu proses penyampaian bahan pembelajaran yang berupa kata atau perbendaharaan kata sebagai unsur dalam pembelajaran bahasa Arab. Oleh karena itu pembelajaran bahasa Arab yang diselenggarakan pada suatu lembaga pendidikan perlu membersamakannya dengan pembelajaran beberapa pola kalimat yang relevan.
Menurut Ahmad Fuad Effendy (hal 87-88), dalam pembelajaran kosakata ada beberapa hal yang harus diperhatikan, sebagai berikut:
a. Pembelajaran kosakata (al-mufradât) tidak berdiri sendiri. Kosakata (al-mufradât) hendaknya tidak diajarkan sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri melainkan sangat terkait dengan pembelajaran muthâla’ah, istimâ’, insyâ’, dan muhâdatsah.
b. Pembatasan makna. Dalam pembelajaran kosakata hendaknya makna harus dibatasi sesuai dengan konteks kalimat saja, mengingat satu kata dapat memiliki beberapa makna. Bagi para pemula, sebaiknya diajarkan kepada makna yang sesuai dengan konteks agar tidak memecah perhatian dan ingatan peserta didik. Sedang untuk tingkat lanjut, penjelasan makna bias dikembangkan dengan berbekal wawasan dan cakrawala berpikir yang lebih luas tentang makna kata dimaksud.
c. Jumlah mufradat yang akan diajarkan. Ada perbedaan tentang jumlah mufradât yang akan diajarkan kepada siswa pada pembelajaran bahasa Arab untuk non- Arab. Ada yang mengusulkan antara 750-1000 mufradât untuk tingkat pemula (mubtadi’), 1000-1500 untuk tingkat menengah (mutawasith), 1500-2000 untuk tingkat atas (mutaqaddim). Ada pula yang berpendapat bahwa 2000 atau 2500 mufradât pada tingkat pemula (mubtadi’) cukup bagi mereka dengan syarat mereka belajar menyusun kalimat dan terampil menggunakan kamus.
d. Kosakata dalam konteks. Beberapa kosakata dalam bahasa asing (Arab) tidak bisa dipahami tanpa pengetahuan tentang cara pemakaiannya dalam kalimat. Kosakata seperti ini hendaknya diajarkan dalam konteks agar tidak mengaburkan pemahaman siswa.
e. Terjemah dalam pengajaran kosakata. Pembelajaran kosakata dengan cara menerjemahkan kata ke dalam bahasa ibu adalah cara yang paling mudah, namun mengandung beberapa kelemahan. Kelemahan tersebut antara lain dapat mengurangi spontanitas siswa ketika menggunakannya dalam ungkapan saat berhadapan dengan benda atau objek kata, lemah daya lekatnya dalam ingatan siswa, dan juga tidak semua kosakata bahasa asing ada padanannya yang tepat dalam bahasa ibu. Oleh karena itu, cara penerjemahan ini direkomendasikan sebagai senjata terakhir dalam pembelajaran kosakata, digunakan untuk kata-kata abstrak atau kata-kata yang sulit diperagakan untuk mengetahui maknanya.
f. Daftar mufradât. secara sederhana tergambar, memungkinkan pembelajaran bahasa Arab sebagai bahasa asing jika siswa hafal seperangkat mufradât bahasa Arab yang sering digunakan beserta terjemahannya ke dalam bahasa yang digunakan siswa.
Dasar atau asas-asas yang menjadi prinsip acuan pemilihan kata atau kosakata dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Frequency (tawatur), yaitu frekuensi penggunaan kata-kata yang tinggi dan sering itulah yang harus menjadi pilihan.
b. Range (tawazzu’), yaitu mengutamakan kata-kata yang banyak digunakan baik di negara Arab maupun di negara-negara non Arab atau di suatu negara tertentu yang mana kata-kata itu lebih sering digunakan.
c. Availability (mataahiyah), mengutamakan kata-kata atau kosakata yang mudah dipelajari dan digunakan dalam berbagai media atau wacana.
d. Familiarity (ulfah), yakni mendahulukan kata-kata yang sudah dikenal dan cukup familiar didengar, seperti penggunaan kata شَمْسٌ lebih sering digunakan dari pada kata ذٌ كاءٌ , padahal keduanya sama maknanya.
e. Coverage (syumuul), yakni kemampuan daya cakup suatu kata untuk memiliki beberapa arti, sehingga menjadi luas cakupannya. Misalnya kata يبت lebih luas daya cakupannya dari pada kata منـزل .
f. Significance (ahammiyah), yakni mengutamakan kata-kata yang memiliki arti yang signifikan untuk menghindari kata-kata umum yang banyak ditinggalkan atau kurang lagi digunakan.
g. Arabism, yakni mengutamakan kata-kata Arab dari kata-kata serapan yang diarabisasi dari bahasa lain. Misalnya kata الهاتف , المذيـاع, التلفاز secara berurutan ini harus diutamakan pemilihannya dari pada kata التليفون , الراديو dan التلفزيون.
E. Strategi Pembelajara Mufradât
Strategi pembelajaran pada hakikatnya adalah teknik-teknik dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswa. Begitu pula halnya dengan pembelajaran bahasa Arab khususnya kosakata (al-mufradât) ini menuntut adanya strategi yang dapat diterapkan tanpa mengharuskan adanya sarana-sarana yang tidak terjangkau oleh lembaga-lembaga pendidikan yang mengajarkan bahasa Arab. Namun bila ada sarana dan media yang memadai tentunya akan lebih baik dan sangat membantu suksesnya strategi pembelajaran yang akan dikemukakan pada makalah ini.
Ahmad Fuad Effendy menjelaskan lebih rinci tentang tahapan dan teknik-teknik pembelajaran kosakata (al-Mufradât) atau pengalaman siswa dalam mengenal dan memperoleh makna kata (al-mufradât), sebagai berikut:
a. Mendengarkan kata. Ini merupakan tahapan pertama yaitu dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mendengarkan kata yang diucapkan guru atau media lain, baik berdiri sendiri maupun di dalam kalimat. Apabila unsur bunyi dari kata itu sudah dikuasai oleh siswa, maka untuk selanjutnya siswa akan mampu mendengarkan secara benar.
b. Mengucapkan kata. Dalam tahap ini, guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengucapkan kata yang telah didengarnya. Mengucapkan kata baru akan membantu siswa mengingat kata tersebut dalam waktu yang lebih lama.
c. Mendapatkan makna kata. Pada tahap ini guru hendaknya menghindari terjemahan dalam memberikan arti kata kepada siswa, karena bila hal itu dilakukan maka tidak akan terjadi komunikasi langsung dalam bahasa yang sedang dipelajari, sementara makna kata pun akan cepat dilupakan oleh siswa. Ada beberapa teknik yang bisa digunakan oleh guru untuk menghindari terjemahan dalam memperoleh arti suatu kata, yaitu dengan pemberian konteks kalimat, definisi sederhana, pemakaian gambar/foto, sinonim (murâdif), antonim (dlid), memperlihatkan benda asli atau tiruannya, peragaan gerakan tubuh, dan terjemahan sebagai alternatif terakhir bila suatu kata memang benar-benar sukar untuk dipahami oleh siswa.
d. Membaca kata. Setelah melalui tahap mendengar, mengucapkan, dan memahami makna kata-kata (kosakata) baru, guru menulisnya di papan tulis. Kemudian siswa diberikan kesempatan membaca kata tersebut dengan suara keras.
e. Menulis kata. Penguasaan kosakata siswa akan sangat terbantu bilamana ia diminta untuk menulis kata-kata yang baru dipelajarinya (dengar, ucap, paham, baca) mengingat karakteristik kata tersebut masih segar dalam ingatan siswa.
f. Membuat kalimat. Tahap terakhir dari kegiatan pembelajaran kosakata adalah menggunakan kata-kata baru itu dalam sebuah kalimat yang sempurna, baik secara lisan maupun tulisan. Guru harus kreatif dalam memberikan contoh kalimat-kalimat yang bervariasi dan siswa diminta untuk menirukannya. Dalam menyusun kalimat-kalimat itu hendaknya digunakan kata-kata yang produktif dan aktual agar siswa dapat dengan memahami dan mempergunakannya sendiri.
Ada beberapa cara juga yang dapat digunakan guru untuk menjelaskan makna kosakata (mufradât), yaitu sebagai berikut:
a. Dengan menampilkan benda atau sampel yang ditunjukkan oleh makna kata, seperti menampilkan buku, pensil, dan lain sebagainya.
b. Dengan peragaan tubuh, seperti: guru membuka buku ketika menerangkan kataفتح الكتاب .
c. Dengan bermain peran, seperti: guru yang sedang memerankan orang sakit yang memegangi perut dan dokter memeriksanya.
d. Menyebutkan lawan kata (antonim) dan persamaan katanya (sinonim).
e. Menyebutkan kelompok katanya, misalnya: untuk menjelaskan kata عائلة guru bisa menyebutkan kata berikutnya, seperti زوج، أسرة، أولاد .
f. Menyebutkan kata dasar sebuah kata dan kata bentuknya.
g. Menjelaskan makna kata dengan menjelaskan maksudnya.
h. Mengulang-ulang bacaan.
i. Mencari makna dalam kamus.
j. Menerjemahkan ke dalam bahasa siswa, ini cara terkhir dan hendaknya guru tidak tergesa-gesa dalam menggunakan cara ini.
Prosedur atau langkah-langkah pembelajaran kosakata di atas tentunya dapat dijadikan acuan para pengajar bahasa asing khususnya bahasa Arab, walaupun tidak semua kata-kata baru harus dikenalkan dengan prosedur dan langkah-langkah tersebut. Faktor alokasi waktu dalam hal ini juga harus diperhitungkan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemilihan kata-kata tetentu yang dianggap sukar atau kata-kata yang memang hanya dapat dipahami secara baik dan utuh maknanya bilamana dihubungkan serta disesuaikan dengan konteks wacana.
Ada pula setrategi pembelajaran mufradât dengan menggunakan permainan, di antaraya adalah setrategi Puzzel. Strategi ini menggunakan pendekatan permainan sebagaimana layaknya teka-teki silang (TTS). Fokusnya adalah pada penguasaan kosa-kata sebanyak mungkin. Semakin banyak perbendaharaan kosa kata yang dimiliki siswa, memungkinkan semakin banyak hasil yang diperolehnya. Langkah-langkahnya adalah:
a. Buatlah tabel berisi huruf-huruf dengan beberapa kata kunci.
b. Bagikan kertas berisi tabel tersebut kepada para siswa.
c. Mintalah siswa untuk menemukan mufrodat sebanyak-banyaknya dari tabel tersebut (dapat mendatar, menurun, maupun diagonal dan sebaliknya).
d. Mintalah masing-masing untuk menyampaikan hasilnya (presentasi).
e. Berikan klarifikasi secara menyeluruh dari hasil para siswa tersebut.
Selengkapnya...